Telset.id – Jika Anda berpikir lini laptop Apple sudah terlalu sesak dengan jenis Air dan Pro, bersiaplah untuk menelan ludah kembali. Bocoran terbaru mengindikasikan bahwa raksasa teknologi asal Cupertino ini sedang mempersiapkan kembalinya seri “MacBook” polos—tanpa embel-embel Air alias Pro—dengan strategi nilai nan sangat agresif. Minggu depan diprediksi menjadi momen krusial di mana Apple mungkin bakal mengumumkan perangkat penuh warna, berkekuatan prosesor mobile, dan dibanderol dengan nilai nan bisa membikin pengguna Windows mulai goyah, ialah di kisaran USD 699 alias USD 799 (sekitar Rp 10-12 jutaan).
Langkah ini sebenarnya bukan tanpa preseden. Saat ini, MacBook Air seharga USD 999 adalah opsi termurah di situs resmi mereka. Namun, Apple sempat melakukan “eksperimen pasar” nan pandai dengan menjual MacBook Air M1 lawas melalui Walmart seharga USD 700 pada tahun 2024, nan harganya apalagi sempat turun lagi menjadi USD 650. Kesuksesan penjualan tersebut seolah menjadi pengesahan bagi Tim Cook dan kolega bahwa pasar sangat haus bakal laptop Apple dengan nilai miring, tanpa perlu membangun produk nan betul-betul baru dari nol saat itu.
Namun, kreasi MacBook Air M1 sekarang sudah terlihat sangat ketinggalan zaman, dan perusahaan jelas perlu bergerak melampaui chip M1 nan sudah berumur enam tahun. Inilah saat nan tepat bagi Apple untuk serius menghadirkan laptop berbiaya rendah nan sebenarnya. Ada argumen kuat lain untuk menghadirkan kembali MacBook murah ini: ini adalah langkah sempurna untuk memikat pengguna Windows nan mulai gerah dengan ekosistem Microsoft, sebuah strategi garang nan belum betul-betul dilakukan Apple sejak iklan ikonik “Get A Mac” di pertengahan tahun 2000-an.
Celah Menganga Akibat Ambisi AI Microsoft
Selama beberapa tahun terakhir, kesuksesan iPhone dan iPad membikin Apple tampak kurang konsentrasi untuk berkompetisi secara head-to-head dengan Windows. Namun, situasi pasar sekarang berbalik. Microsoft saat ini terlihat terlalu terdistraksi oleh ambisi kepintaran buatan (AI) mereka. Raksasa software tersebut terus mendorong fitur Copilot dan keahlian AI generatif, alih-alih meningkatkan pengalaman dasar Windows dengan pembaruan nan lebih berfaedah bagi pengguna harian.
Wacana terbaru tentang keahlian “agentic AI”—di mana Copilot dapat menangani tugas secara otomatis—justru memicu banyak kritik dari pengguna setia Windows. Ditambah lagi, konsentrasi berlebihan pada AI ini berbarengan dengan rilis beberapa pembaruan Windows nan membawa bencana, apalagi hingga menyebabkan instalasi OS menjadi rusak (brick). Di sinilah Apple memandang kesempatan emas. Dengan menawarkan stabilitas macOS nan bebas dari bloatware dan iklan nan mengganggu, Apple bisa menarik mereka nan capek dengan drama pembaruan Windows.

Chip Apple Silicon seri M dikenal sangat sigap dan efisien, serta perangkat kerasnya condong lebih tahan lama dibandingkan laptop PC pada umumnya. Rumor menyebut bahwa Apple sedang mengembangkan casing aluminium baru untuk rilis MacBook berbiaya rendah ini, sehingga kemungkinan besar bakal terasa lebih premium daripada laptop Windows di bawah nilai Rp 15 juta. Pengguna juga bisa mematikan fitur Apple Intelligence dengan mudah jika tidak menginginkannya, sebuah elastisitas nan mulai jarang ditemukan di platform sebelah.
Eksperimen Chip Mobile untuk Menekan Harga
Salah satu poin paling menarik dari bocoran ini adalah gimana Apple bisa menekan nilai hingga level USD 699. Laporan menunjukkan bahwa Apple mungkin menghindari penggunaan chip seri-M nan lebih mahal untuk model ini. Sebagai gantinya, rumor menyarankan penggunaan prosesor mobile, kemungkinan besar A18 Pro nan digunakan pada iPhone 16 Pro. Meskipun terdengar seperti penurunan spesifikasi, realitanya chip A18 Pro mempunyai benchmark nan lebih sigap daripada chip M1 asli.
Meskipun mungkin hanya mempunyai enam inti nan membuatnya lebih lambat untuk beban kerja berat dibandingkan M2, MacBook berkekuatan A18 Pro bakal lebih dari cukup untuk produktivitas dasar. Tidak semua orang memerlukan kekuatan GPU nan mengejutkan seperti nan ada di MacBook Air, terutama jika “penurunan” spesifikasi ini berfaedah mereka bisa menghemat jutaan rupiah. Ini adalah strategi pandai untuk menciptakan pesaing Chromebook dan laptop Windows kelas menengah sekaligus.
Selain itu, transisi dari Windows ke Mac sekarang jauh lebih mudah, terutama jika Anda sangat berjuntai pada aplikasi web. Fitur iPhone Mirroring juga bisa menjadi daya tarik utama bagi jutaan pemilik iPhone nan tetap menggunakan PC Windows. Mereka mungkin tidak menyadari sungguh terintegrasinya iOS dan macOS sampai mereka mencobanya sendiri. Sebuah MacBook seharga USD 699 alias USD 799 sangat masuk logika secara bisnis, dan bagi banyak pengguna Windows, ini mungkin menjadi jalan keluar nan mereka butuhkan dari ekosistem Microsoft nan semakin rumit.