Hacker Bajak Aplikasi Salat Iran, Pesan “pertanggungjawaban” Muncul Saat Konflik Memanas

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Telset.id – Bayangkan Anda sedang membuka aplikasi di ponsel untuk mengecek agenda ibadah harian, namun nan muncul di layar justru sebuah pesan peringatan militer nan mendesak. Ini bukan segmen dari movie thriller teknologi, melainkan realitas baru di medan bentrok modern. Ketika ketegangan geopolitik memuncak dengan serangan campuran Amerika Serikat dan Israel, sebuah front lain terbuka secara senyap namun mematikan: perang di bumi maya nan menargetkan prasarana digital Iran.

Peristiwa ini menjadi sorotan tajam ketika para peretas melancarkan serangan siber terkoordinasi terhadap sejumlah platform digital di Iran, bertepatan dengan operasi militer pada Sabtu awal hari. Targetnya tidak main-main, salah satunya adalah BadeSaba, sebuah aplikasi pengingat salat dan almanak keagamaan nan sangat terkenal dengan pedoman pengguna mencapai lebih dari 5 juta unduhan. Serangan ini membuktikan bahwa dalam perang modern, aplikasi sipil sekalipun bisa menjadi sasaran strategis untuk melancarkan perang psikologis.

Menurut laporan nan beredar, aplikasi BadeSaba tiba-tiba menampilkan pesan provokatif nan berbunyi, “Saatnya pertanggungjawaban.” Tidak berakhir di situ, para peretas juga menyisipkan dorongan kepada pasukan bersenjata Iran untuk meletakkan senjata mereka dan berasosiasi dengan rakyat. Langkah ini dinilai oleh para pengamat sebagai strategi nan sangat spesifik dan terukur, mengingat demografi pengguna aplikasi tersebut.

Hamid Kashfi, seorang peneliti keamanan sekaligus pendiri firma keamanan siber DarkCell, memberikan kajian menarik mengenai kejadian ini. Menurutnya, pemilihan BadeSaba sebagai sasaran adalah langkah nan pandai secara strategis. Mengapa? Karena pedoman pengguna aplikasi ini sebagian besar adalah pendukung pemerintah nan condong lebih religius. Dengan menyusup ke dalam ruang individual mereka melalui aplikasi ibadah, para peretas mengirimkan pesan langsung ke jantung pedoman pendukung rezim, menciptakan pengaruh psikologis nan jauh lebih besar daripada sekadar meretas situs web biasa. Fenomena ini mengingatkan kita pada sungguh rentannya prasarana digital, apalagi piranti pintar di rumah kita sendiri.

Strategi Perang Hibrida dan Gangguan Konektivitas

Serangan terhadap BadeSaba hanyalah puncak gunung es dari operasi nan lebih besar. Doug Madory, kepala kajian internet di Kentik, mencatat adanya penurunan drastis dalam konektivitas internet di Iran pada dua waktu krusial: pukul 07.06 GMT dan kembali terjadi pada 11.47 GMT. Gangguan ini meninggalkan konektivitas nan sangat minimal, sebuah pola nan sering terjadi ketika sebuah negara sedang berada di bawah tekanan serangan siber masif alias sedang berupaya mengontrol arus info internal.

Sementara itu, laporan dari The Jerusalem Post menyebut bahwa serangan siber ini juga menghantam beragam jasa pemerintah dan sasaran militer Iran. Tujuannya jelas: membatasi keahlian Iran untuk melakukan respons terkoordinasi terhadap serangan bentuk nan sedang berlangsung. Meskipun klaim spesifik mengenai sasaran militer ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh instansi buletin Reuters, pola serangannya mempunyai kemiripan dengan kejadian website global nan pernah terjadi sebelumnya, di mana prasarana vital menjadi sasaran utama.

Hingga saat ini, ahli bicara Komando Siber AS belum memberikan tanggapan resmi mengenai keterlibatan mereka. Namun, diamnya pihak berkuasa seringkali menjadi tanda bahwa operasi di ruang siber sedang melangkah dengan intensitas tinggi di kembali layar. Para mahir memperingatkan bahwa ini mungkin baru permulaan dari rangkaian bentrok digital nan lebih panjang.

Ancaman “Wiper” dan Serangan Balasan

Rafe Pilling, Direktur Intelijen Ancaman di perusahaan keamanan siber Sophos, memprediksi bahwa situasi ini bakal memicu respons dari golongan proksi dan “hacktivist”. Menurutnya, sangat mungkin kelompok-kelompok ini bakal mengambil tindakan jawaban terhadap sasaran militer, komersial, alias sipil nan terafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat. Pilling juga menyoroti potensi penggunaan strategi lama nan dikemas ulang, seperti mengamplifikasi kebocoran info lawas seolah-olah itu adalah serangan baru, alias apalagi melancarkan operasi siber ofensif secara langsung.

Kekhawatiran serupa diungkapkan oleh Cynthia Kaiser, mantan pejabat siber terkemuka FBI nan sekarang menjabat di Halcyon. Ia mencatat adanya peningkatan aktivitas di Timur Tengah, termasuk seruan tindakan dari tokoh-tokoh siber pro-Iran. Pola serangan nan diantisipasi meliputi operasi hack-and-leak, ransomware, hingga serangan DDoS nan bermaksud melumpuhkan jasa internet hingga tidak dapat diakses sama sekali.

Adam Meyers dari CrowdStrike menambahkan bahwa aktivitas siber saat ini bisa menjadi pertanda operasi nan lebih garang di masa depan. Pihaknya telah mendeteksi aktivitas konsisten dari tokoh ancaman nan berafiliasi dengan Iran, mulai dari pengintaian hingga serangan DDoS. Lebih mengkhawatirkan lagi, perusahaan keamanan Anomali membagikan kajian nan menyatakan bahwa golongan peretas Iran nan didukung negara telah mulai melancarkan serangan “wiper”—sebuah jenis malware nan dirancang untuk menghapus info secara permanen—terhadap target-target Israel sebelum serangan bentuk diluncurkan.

Meskipun retorika mengenai keahlian digital Iran sering kali terdengar mengancam, dan pejabat AS kerap mensejajarkan Iran dengan Rusia dan China sebagai ancaman jaringan, respons Teheran di lapangan sejauh ini terlihat relatif terbatas. Sebagai contoh, pasca serangan AS terhadap sasaran nuklir Iran pada bulan Juni lalu, tidak ada tanda-tanda serangan siber jawaban nan signifikan, selain gangguan jasa singkat di Tirana, Albania. Apakah ini berfaedah Iran sedang menahan diri alias sedang mempersiapkan serangan nan jauh lebih besar? Hanya waktu nan bisa menjawabnya di medan pertempuran hibrida ini.

Selengkapnya