Osteosarcoma adalah jenis kanker tulang primer nan paling sering terjadi, terutama menyerang anak-anak dan remaja.
Kanker tulang merupakan penyakit nan cukup serius, meski kasusnya tidak terlalu banyak. Memahami penyakit ini krusial lantaran dapat mempengaruhi kehidupan pasien dan keluarganya secara signifikan.
Jika mau berkonsultasi tentang sakit kaki dan nyeri dengkul dengan master mahir Klinik Patella dapat menghubungi melalui WA di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda berbareng Klinik Patella!
Apa Itu Osteosarcoma?
Kanker tulang osteosarcoma adalah tumor tulang galak nan berasal dari sel osteoblas. Sel osteoblas ini sebenarnya adalah sel baik nan bekerja membentuk dan membangun tulang kita.
Namun, ketika terjadi kerusakan genetik, sel-sel ini berubah menjadi “nakal” dan tumbuh tak terkendali, membentuk pertumbuhan tulang abnormal nan berbahaya.
Yang menarik dari osteosarcoma adalah penyakit ini lebih sering menyerang tulang-tulang panjang di tubuh, khususnya di bagian nan sedang tumbuh pesat.
Itulah kenapa penyakit ini sangat erat hubungannya dengan kanker pada usia muda, terutama saat anak-anak dan remaja sedang dalam masa pubertas.
Dalam sistem muskuloskeletal tubuh kita, tulang nan terkena osteosarcoma bakal kehilangan kegunaan normalnya dan bisa mengganggu keahlian bergerak secara serius.
Lokasi paling sering terkena adalah tulang femur (tulang paha) bagian bawah dekat lutut, tulang tibia (tulang kering) bagian atas, dan tulang humerus (tulang lengan atas) di dekat bahu.
Semua letak ini berada di sekitar sendi besar nan aktif tumbuh saat masa muda.


Bedanya Osteosarcoma dengan Kanker Tulang Lain
Perbedaan osteosarcoma dan kanker tulang lainnya perlu kita pahami agar tidak bingung.
Istilah “kanker tulang” sebenarnya cukup luas. Ada dua golongan besar:
- Kanker tulang primer (yang memang berasal dari tulang itu sendiri)
- Metastasis kanker tulang (penyebaran kanker dari organ lain seperti tetek alias paru-paru ke tulang)
Osteosarcoma termasuk dalam kanker tulang primer. Selain osteosarcoma, ada juga jenis lain seperti chondrosarcoma dan Ewing sarcoma. Bedanya ada di asal sel kankernya dan lokasinya tumbuh.
Osteosarcoma berasal dari sel pembentuk tulang dan biasanya tumbuh di ujung tulang panjang dekat area pertumbuhan.
Sementara Ewing sarcoma lebih sering di bagian tengah tulang, dan chondrosarcoma berasal dari sel tulang rawan.
Yang juga krusial untuk dibedakan adalah perbedaan tumor jinak dan ganas. Tumor jinak tumbuhnya pelan, bentuknya jelas, dan tidak menyebar kemana-mana.
Sebaliknya, tumor galak seperti osteosarcoma tumbuh sigap dan agresif, bentuknya tidak beraturan, dan bisa menyebar ke organ lain.
Mengapa Osteosarcoma Sering Menyerang Anak dan Remaja?
Osteosarcoma pada anak dan osteosarcoma pada remaja adalah kasus nan paling banyak ditemukan.
Kenapa begitu? Ini ada hubungannya dengan langkah tulang kita tumbuh. Saat masa remaja, tulang sedang tumbuh sangat cepat.
Sel-sel pembentuk tulang bekerja ekstra keras. Nah, aktivitas nan sangat sibuk ini membikin kesempatan terjadinya kesalahan genetik lebih besar, nan bisa memicu tumbuhnya kanker.
Meski begitu, osteosarcoma juga bisa muncul pada orang tua di atas 60 tahun.
Pada golongan ini, biasanya ada hubungannya dengan penyakit tulang nan sudah diderita sebelumnya alias pernah mendapat terapi radiasi untuk kanker lain.


Osteosarcoma di Kaki dan Bagian Tubuh Lainnya
Osteosarcoma di kaki adalah nan paling sering terjadi. Kalau kita lihat peta penyebarannya, ada pola nan jelas.
Ujung bawah tulang paha di sekitar dengkul adalah letak nomor satu, diikuti ujung atas tulang kering nan juga di area lutut.
Selain di kaki, osteosarcoma bisa tumbuh di lengan, terutama di ujung atas tulang lengan atas dekat bahu.
Semua tempat ini adalah area tulang nan tumbuh sigap saat masa perkembangan.
Tumor nan tumbuh di sini bisa membikin sendi susah digerakkan, terasa nyeri, dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Meskipun jarang, osteosarcoma juga bisa muncul di tulang pipih seperti tulang panggul, tulang belikat, alias apalagi tulang rahang. Kasus-kasus ini biasanya lebih rumit untuk didiagnosis dan diobati.
Gejala Osteosarcoma nan Harus Diwaspadai
Gejala osteosarcoma di awal sering mirip dengan cedera biasa, makanya kadang tidak langsung disadari.
Tapi ada beberapa tanda nan perlu diwaspadai, apalagi jika berjalan lama dan makin parah.
1. Nyeri Tulang nan Tidak Sembuh-Sembuh
Nyeri tulang kronis adalah keluhan utama nan paling sering. Di awal, mungkin nyerinya hanya muncul saat berolahraga alias beraktivitas, lampau lenyap jika istirahat.
Tapi lama-lama, nyerinya jadi terus-menerus, apalagi saat tidak melakukan apa-apa. nan khas, nyerinya lebih parah di malam hari sampai mengganggu tidur.
Ini berbeda dengan nyeri lantaran keseleo alias cedera olahraga nan biasanya membaik dalam beberapa minggu.
Nyeri akibat osteosarcoma justru makin parah meski sudah rehat dan minum obat pereda nyeri biasa.
2. Bengkak di Area Tulang
Pembengkakan tulang muncul lantaran tumor nan tumbuh. Area nan bengkak teraba keras seperti ada benjolan di bawah kulit, dan hangat saat disentuh.
Bengkaknya terus membesar dan tidak seperti bengkak lantaran tumbukan nan biasanya kempes dalam beberapa hari.
Pada kondisi nan sudah parah, bengkaknya sangat jelas terlihat dan bisa mengubah corak kaki alias lengan.
Kulit di atasnya bisa tampak kencang dan mengkilap, kadang juga terlihat urat-urat nan membesar.
3. Tulang Mudah Patah (Fraktur Patologis)
Tumor nan tumbuh di dalam tulang merusak struktur tulang dan membuatnya rapuh.
Akibatnya, tulang bisa patah hanya lantaran tumbukan ringan alias apalagi tiba-tiba patah sendiri tanpa karena nan jelas. Kondisi ini disebut fraktur patologis.
Fraktur patologis menandakan kondisi sudah cukup parah dan membikin pengobatan lebih sulit. Tulang nan patah juga memperumit tindakan operasi nantinya.
4. Gejala Lain nan Mungkin Muncul
Selain indikasi di area tulang, ada juga indikasi umum seperti demam ringan tanpa karena jelas, berat badan turun tanpa diet, mudah lelah, dan nafsu makan berkurang.
Gejala-gejala ini biasanya muncul jika penyakitnya sudah lebih lanjut alias sudah menyebar.
Kalau osteosarcoma di kaki, penderita bisa jadi pincang lantaran sakit dan susah menggerakkan kaki. Sendi nan dekat dengan tumor juga sering jadi kaku dan susah ditekuk.


Apa Penyebab Osteosarcoma?
Penyebab osteosarcoma sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Para mahir menduga penyakit ini muncul lantaran kombinasi aspek keturunan dan lingkungan.
Meski begitu, ada beberapa perihal nan membikin seseorang lebih berisiko terkena penyakit ini.
Faktor usia
Faktor usia adalah nan paling jelas. Remaja dan dewasa muda paling rentan. Orang tua di atas 60 tahun juga bisa terkena, tapi tidak sebanyak golongan usia muda.
Kelainan genetik
Kelainan genetik bawaan tertentu meningkatkan risiko. Misalnya:
- Sindrom Li-Fraumeni (kelainan pada gen TP53)
- Retinoblastoma keturunan (kanker mata pada anak)
- Neurofibromatosis jenis 1
Orang dengan kondisi ini punya akibat lebih tinggi.
Terpapar radiasi
Pernah mendapat terapi radiasi dosis tinggi untuk mengobati kanker lain juga bisa merusak DNA sel tulang dan memicu osteosarcoma beberapa tahun kemudian.
Pernah menderita penyakit tulang
Beberapa penyakit tulang nan sudah ada sebelumnya juga meningkatkan risiko, seperti penyakit Paget tulang (kelainan tulang pada orang tua), displasia fibrosa, dan beberapa kelainan tulang bawaan lainnya.
Bagaimana Cara Diagnosis Osteosarcoma?
Deteksi awal kanker tulang sangat krusial agar bisa diobati dengan lebih baik.
Cara pemeriksaan osteosarcoma melibatkan beberapa pemeriksaan nan saling melengkapi.
Pemeriksaan dengan Foto dan Scan
Langkah pertama biasanya dimulai dengan uji pencitraan tulang di bagian nan sakit.
- Rontgen bisa menunjukkan adanya kerusakan tulang, pertumbuhan tulang nan tidak normal, dan gambaran unik seperti corak “sunburst” (seperti sinar mentari nan menyebar).
- MRI tulang adalah pemeriksaan lanjutan nan lebih detail. MRI tulang bisa menunjukkan ukuran tumor, sejauh mana penyebarannya ke jaringan sekitar, dan hubungannya dengan pembuluh darah dan saraf. Informasi ini sangat krusial untuk merencanakan operasi.
- CT scan juga sering dipakai, terutama untuk memandang lebih jelas struktur tumor dan mencari tahu apakah kanker sudah menyebar ke paru-paru. Paru-paru adalah tempat paling sering dituju jika osteosarcoma menyebar.
Biopsi
Meskipun hasil foto dan scan sudah menunjukkan kecurigaan kuat, pemeriksaan pasti hanya bisa didapat dari biopsi tulang.
Biopsi ini adalah prosedur pengambilan sampel jaringan tumor untuk diperiksa di laboratorium.
Biopsi kudu dilakukan oleh master ortopedi nan berilmu dalam onkologi ortopedi (spesialis tumor tulang).
Caranya kudu betul lantaran jalur biopsi bakal mempengaruhi operasi nanti. Kalau tidak hati-hati, bisa menyebarkan sel kanker ke area nan tadinya tetap sehat.
Di laboratorium, mahir patologi bakal memeriksa sampel di bawah mikroskop. Mereka bakal mencari sel kanker nan memproduksi matriks tulang abnormal, nan merupakan karakter unik osteosarcoma.


Stadium Osteosarcoma dan Artinya
Setelah pemeriksaan dipastikan, langkah berikutnya adalah menentukan stadium osteosarcoma.
Sistem stadium ini membantu master merencanakan pengobatan nan tepat dan memberikan gambaran tentang prognosis.
- Stadium I berfaedah tumor tetap jinak (derajat rendah) dan tetap terbatas di tulang saja. Stadium ini jarang ditemukan lantaran kebanyakan osteosarcoma berkarakter agresif.
- Stadium II berfaedah tumor sudah galak (derajat tinggi) tapi tetap belum menyebar. Ini adalah stadium nan paling sering ditemukan saat pasien pertama kali didiagnosis. Tumornya sudah garang tapi tetap bisa diangkat.
- Stadium III berfaedah kanker sudah menyebar ke organ lain. Paling sering menyebar ke paru-paru, tapi bisa juga ke tulang lain alias organ berbeda. Stadium ini lebih susah diobati.
Apakah Osteosarcoma Bisa Sembuh?
Harapan hidup osteosarcoma sangat tergantung pada stadium saat ditemukan dan gimana respons terhadap pengobatan.
Pertanyaan “apakah osteosarcoma bisa sembuh?” sering ditanyakan pasien dan keluarga. Jawabannya adalah ya, bisa sembuh terutama jika ketahuan sejak awal dan diobati dengan baik.
Pasien dengan osteosarcoma nan belum menyebar dan mendapat kombinasi kemoterapi plus operasi punya kesempatan hidup lima tahun diatas 50%.
Ini sudah jauh lebih baik dibanding dulu sebelum ada kemoterapi, nan hanya sekitar 20%.
Sayangnya, jika kanker sudah menyebar, peluangnya turun jadi sekitar 20-30%. Faktor-faktor nan mempengaruhi meliputi:
- Lokasi tumor
- Ukuran tumor
- Respons terhadap kemoterapi
- Apakah tumor bisa diangkat sempurna lewat operasi
Cara Mengobati Osteosarcoma
Pengobatan osteosarcoma modern menggunakan kombinasi beberapa metode.
Tim nan menangani terdiri dari master onkologi (spesialis kanker) dan master ortopedi nan mahir dalam tumor tulang (onkologi ortopedi).
1. Kemoterapi Osteosarcoma
Kemoterapi osteosarcoma adalah pengobatan utama nan sangat penting. Kemoterapi diberikan dalam dua tahap dengan tujuan berbeda.
Kemoterapi pertama diberikan sebelum operasi (kemoterapi neoadjuvan). Tujuannya:
- Untuk mengecilkan tumor agar lebih mudah diangkat
- Membunuh sel kanker nan mungkin sudah menyebar tapi belum terlihat
- Menguji apakah obat kemonya efektif untuk pasien ini
Kemoterapi kedua diberikan setelah operasi (kemoterapi adjuvan) bermaksud untuk membersihkan sisa-sisa sel kanker dan mencegah kanker kambuh lagi. Total waktu kemoterapi biasanya 6-12 bulan.
Obat-obat nan dipakai antara lain methotrexate dosis tinggi, doxorubicin, cisplatin, ifosfamide, dan etoposide. Kombinasi obat-obat ini terbukti sangat meningkatkan kesempatan sembuh.
2. Operasi Osteosarcoma
Operasi osteosarcoma bermaksud mengangkat seluruh tumor beserta sedikit jaringan sehat di sekitarnya. Prinsipnya, tidak boleh ada sel kanker nan tertinggal agar tidak tumbuh lagi.
Kabar baiknya, sekarang sudah ada teknik operasi pengamanan personil tubuh (limb-sparing surgery). Jadi tidak kudu amputasi seperti dulu.
Dalam operasi ortopedi onkologi ini, bagian tulang nan kena tumor diangkat, lampau diganti dengan prostesis logam unik alias tulang donor.
Prostesis logam ini dibuat unik sesuai ukuran nan dibutuhkan. Ada juga pilihan menggunakan tulang donor (allograft). Kadang kombinasi keduanya dipakai.
Keputusan antara operasi pengamanan alias amputasi tergantung banyak faktor: letak tumor, ukuran, apakah sudah mengenai pembuluh darah alias saraf penting, respons terhadap kemoterapi, dan usia pasien.
Yang krusial adalah mengangkat kankernya tuntas sembari mempertahankan kegunaan sebisa mungkin.
3. Perkembangan Terapi Kanker Terbaru
Penelitian terus dilakukan untuk menemukan terapi kanker nan lebih baik dan pengaruh sampingnya lebih sedikit.
Saat ini sedang dikembangkan imunoterapi nan memanfaatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kanker. Ada juga terapi sasaran nan menyerang titik lemah spesifik sel kanker.
Teknik operasi nan lebih canggih dan tidak terlalu invasif juga terus dikembangkan.
Radioterapi dengan teknologi baru seperti proton beam therapy mulai dicoba pada beberapa kasus, meski penggunaannya untuk osteosarcoma tetap terbatas.


Bedanya Osteosarcoma dengan Osteoarthritis
Kadang indikasi awal osteosarcoma seperti nyeri dan susah mobilitas sendi bisa dikira osteoarthritis, terutama pada pasien nan lebih tua.
Padahal keduanya sangat berbeda. Osteoarthritis adalah pengapuran sendi lantaran aspek usia dan keausan, bukan kanker.
Nyeri osteoarthritis biasanya membaik jika rehat dan memburuk jika banyak bergerak. Sebaliknya, nyeri osteosarcoma justru terus-menerus dan lebih parah di malam hari.
Perbedaan jelas lainnya adalah usianya. Osteoarthritis lebih sering pada lansia, sementara osteosarcoma paling sering pada anak dan remaja.
Kalau ada nyeri nan makin parah, disertai benjolan nan terus membesar, dan tidak membaik dengan obat biasa, kudu dicurigai kemungkinan kanker.
Kesimpulan tentang Osteosarcoma
Memahami osteosarcoma dengan baik adalah langkah krusial untuk bisa mendeteksi awal dan mengobatinya dengan tepat.
Meski kasusnya tidak terlalu banyak, dampaknya sangat besar terutama lantaran kebanyakan penderitanya tetap muda.
Nyeri tulang nan tidak sembuh-sembuh, terutama pada anak dan remaja, jangan dianggap remeh sebagai nyeri pertumbuhan biasa alias cedera olahraga saja.
Benjolan nan terus membesar di tulang panjang kaki alias lengan perlu diperiksa lebih lanjut.
Menyadari tanda-tanda awal memungkinkan penyakit dideteksi lebih sigap saat kesempatan sembuhnya tetap sangat baik.
Kerja sama antara master onkologi dan master ortopedi dalam menangani osteosarcoma sudah membawa perubahan besar.
Kombinasi kemoterapi dan operasi pengamanan personil tubuh tidak hanya meningkatkan nomor kesembuhan, tapi juga kualitas hidup pasien setelah pengobatan.
Penelitian tentang biologi molekuler osteosarcoma terus berkembang dan membuka kesempatan untuk pengobatan nan lebih tepat sasaran di masa depan.
Sementara itu, nan paling krusial sekarang adalah penemuan dini. Segera konsultasi ke master saat mengalami indikasi nan mencurigakan bisa membikin perbedaan besar dalam hasil pengobatan.
Dengan memahami osteosarcoma lebih baik, diharapkan masyarakat bisa lebih waspada dan tidak terlambat mencari pertolongan medis.
Diagnosis dini, pengobatan nan tepat, dan support menyeluruh memberikan angan nyata bagi penderita osteosarcoma untuk sembuh dan kembali menjalani hidup normal.
Jika mau berkonsultasi tentang sakit kaki dan nyeri dengkul dengan master mahir Klinik Patella dapat menghubungi melalui WA di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda berbareng Klinik Patella!


Pertanyaan Seputar Osteosarcoma
Berikut ini adalah beberapa pertanyaan nan muncul seputar topik osteosarcoma.
Apa penyebab osteosarcoma?
Osteosarcoma terjadi akibat mutasi genetik pada sel-sel pembentuk tulang, nan menyebabkan pertumbuhan tulang nan tidak terkendali dan membentuk tumor ganas.
Meski penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami, ada beberapa aspek nan diduga meningkatkan akibat penyakit ini, seperti:
- Paparan radiasi tinggi dari terapi kanker sebelumnya (radioterapi).
- Riwayat kanker mata (retinoblastoma) nan dialami saat tetap kecil.
- Kelainan genetik tertentu, seperti sindrom Li-Fraumeni dan sindrom Bloom.
Apakah osteosarcoma bisa sembuh?
Peluang sembuh dari osteosarcoma tergantung pada stadium kanker, letak tumor, dan respons terhadap pengobatan. Biasanya, pengobatan melibatkan kemoterapi dan pembedahan.
- Kemoterapi diberikan selama 2-3 bulan pertama untuk mengecilkan tumor.
- Jika responsnya baik, tumor bakal diangkat melalui operasi.
- Setelah operasi, pasien tetap perlu menjalani kemoterapi tambahan untuk mencegah penyebaran kanker.
Apakah penderita kanker tulang bisa sembuh total?
Tingkat kesembuhan kanker tulang, termasuk osteosarcoma, tergantung pada seberapa awal kanker terdeteksi dan gimana tubuh merespons pengobatan.
Jika kanker didiagnosis pada tahap awal dan pengobatan melangkah efektif, kesempatan sembuh bisa meningkat secara signifikan.
Namun, jika kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain (metastasis), kemungkinan kesembuhan bisa lebih kecil. Oleh lantaran itu, penemuan awal dan pengobatan garang sangat krusial dalam menangani osteosarcoma.
Tulang mana nan paling sering terkena osteosarcoma?
Osteosarcoma paling sering menyerang tulang panjang nan mengalami pertumbuhan cepat, terutama pada anak-anak dan remaja. Tulang nan paling sering terkena meliputi:
- Tulang paha (femur)
- Tulang kering (tibia)
- Tulang lengan atas (humerus)
- Meskipun lebih jarang, kanker ini juga bisa berkembang di tulang panggul, tulang bahu, alias apalagi rahang.
Apa indikasi awal kanker tulang?
Gejala osteosarcoma sering kali berkembang secara berjenjang dan bisa menyerupai cedera biasa, sehingga susah Anda kenali pada awalnya.
Beberapa indikasi nan perlu Anda waspadai antara lain:
- Nyeri tulang nan terus-menerus, terutama pada malam hari.
- Pembengkakan alias benjolan di sekitar tulang nan terkena.
- Kelemahan alias keterbatasan mobilitas pada sendi di sekitar tumor.
- Tulang mudah patah tanpa karena nan jelas.
- Kelelahan, demam, alias penurunan berat badan tanpa argumen jelas.

