Perbedaan Sprain Dan Strain Serta Cara Mengobatinya

Sedang Trending 4 jam yang lalu

Dua jenis cedera olahraga nan paling umum terjadi adalah sprain dan strain. Meski terdengar mirip, perbedaan sprain dan strain cukup jelas.

Mulai dari bagian tubuh nan terluka, penyebabnya, hingga langkah mengobatinya.

Pernahkah kaki Anda terplintir saat berolahraga, lampau timbul nyeri dan bengkak di area pergelangan kaki? Atau mungkin Anda pernah merasakan otot paha nan tiba-tiba terasa tertarik saat berlari?

Kedua kondisi ini sering disebut orang awam dengan istilah nan sama, padahal sebenarnya berbeda.

Artikel ini membahas tuntas apa itu sprain dan apa itu strain, langkah membedakan keduanya, serta langkah penanganan nan benar.

Jika mau berkonsultasi tentang nyeri dengkul dan sendi dengan master mahir Klinik Patella dapat menghubungi melalui WA di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda berbareng Klinik Patella!

Banner Zaskia dekstop

Apa Itu Sprain?

Sprain adalah cedera nan terjadi pada ligamen. Ligamen sendiri adalah jaringan berbentuk pita nan kuat dan berfaedah menghubungkan satu tulang dengan tulang lainnya di dalam sendi.

Tugas utamanya adalah menjaga agar sendi tetap stabil dan tidak bergerak melampaui pemisah normalnya.

Arti sprain secara sederhana adalah kondisi di mana ligamen meregang terlalu jauh alias apalagi robek lantaran sendi bergerak ke arah nan tidak seharusnya.

Ketika kaki terplintir secara tiba-tiba, misalnya, ligamen di sekitar sendi bisa ikut tertarik dan mengalami cedera.

Sprain terjadi pada bagian apa saja di tubuh?

Cedera ini paling sering terjadi pada sendi-sendi nan menopang beban tubuh alias sering digunakan dalam aktivitas aktif, seperti pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan, dan siku.

Istilah keseleo nan sering dipakai masyarakat sehari-hari pada dasarnya adalah ankle sprain, ialah sprain pada pergelangan kaki.

Apa Itu Strain?

Strain adalah cedera nan terjadi pada otot alias tendon. Tendon adalah jaringan nan menghubungkan otot dengan tulang.

Jadi jika sprain menyerang jaringan penghubung antar tulang, maka strain menyerang jaringan nan berangkaian langsung dengan otot.

Arti strain adalah kondisi di mana serat otot alias tendon meregang alias robek akibat beban nan terlalu besar.

Muscle strain adalah istilah nan digunakan untuk cedera otot jenis ini. Strain terjadi pada bagian apa saja? Cedera ini umumnya menyerang paha, hamstring (otot bagian belakang paha), punggung bawah, dan leher.

Hamstring strain, misalnya, adalah salah satu cedera paling sering dialami pelari dan pemain sepak bola—area nan sering menanggung beban berat saat berolahraga.

Perlu diluruskan bahwa istilah muscle sprain adalah julukan nan keliru secara medis. Tidak ada cedera otot nan disebut sprain. Cedera pada otot disebut strain, bukan sprain.

Peregangan otot nan berlebihan alias kontraksi otot nan terlalu kuat secara tiba-tiba adalah penyebab utama strain.

Apa Perbedaan Sprain dan Strain?

Perbedaan Sprain dan Strain

Banyak orang tetap bertanya-tanya, sprain dan strain bedanya apa? Perbedaan strain dan sprain nan paling mudah dipahami adalah dari bagian tubuh nan terluka.

Sprain merusak ligamen—jaringan penghubung antar tulang. Sementara strain merusak otot alias tendon—jaringan nan menggerakkan tulang.

Cara membedakan sprain dan strain juga bisa dilihat dari gimana cedera terjadi. Sprain biasanya muncul saat sendi bergerak ke arah nan salah secara tiba-tiba, misalnya kaki nan terpeleset alias terpuntir.

Sedangkan strain lebih sering terjadi ketika otot dipaksa bekerja melampaui kemampuannya, seperti saat mengangkat beban berat alias berlari tanpa pemanasan.

Perbedaan cedera sprain dan strain juga terlihat dari letak rasa sakit. Pada sprain, nyeri terasa tepat di sekitar sendi dan seringkali disertai bengkak pada sendi nan lebih jelas.

Pada strain, nyeri terasa lebih dalam di area otot alias sepanjang alur tendon. Perbedaan keseleo dan strain otot inilah nan sebaiknya dipahami agar penanganan nan diberikan tidak keliru.

Dalam konteks sprain vs strain pada olahraga, keduanya sama-sama tergolong sebagai cedera jaringan lunak (soft tissue injury).

Sprain dan strain pada pergelangan kaki serta sprain dan strain pada dengkul merupakan kombinasi cedera nan kerap dijumpai pada olahraga dengan aktivitas sigap dan berubah arah.

Gejala Sprain dan Strain nan Perlu Dikenali

Gejala sprain dan strain memang terlihat mirip lantaran keduanya sama-sama melibatkan cedera pada jaringan lunak.

Secara umum, indikasi nan bisa muncul pada kedua kondisi ini antara lain:

  • Nyeri otot alias nyeri sendi di bagian nan cedera, terutama saat disentuh alias digerakkan
  • Bengkak pada sendi alias jaringan di sekitar area cedera nan bisa muncul dengan cepat
  • Memar pada jaringan lunak akibat pembuluh darah mini nan pecah di bawah kulit
  • Keterbatasan gerak, ialah kesulitan menggerakkan bagian tubuh nan cedera seperti biasa
  • Instabilitas sendi, alias emosi bahwa sendi terasa goyang dan tidak stabil—terutama pada sprain nan cukup parah
  • Kekakuan nan biasanya lebih terasa di pagi hari alias setelah beristirahat dalam waktu lama

Pada cedera olahraga berat, gejalanya bisa lebih serius, seperti tidak bisa sama sekali untuk berdiri alias menopang berat badan pada bagian nan cedera.

Peradangan jaringan juga nyaris selalu menyertai kedua kondisi ini, ditandai dengan area cedera nan terasa hangat, kemerahan, dan membengkak.

Mengenal Tingkat Keparahan Grade 1, 2, dan 3

Baik sprain maupun strain diklasifikasikan ke dalam tiga tingkat keparahan cedera (grade 1, 2, 3).

Pengelompokan ini krusial lantaran menentukan seberapa intensif penanganan nan dibutuhkan.

Grade 1 – Cedera Ringan

Cedera olahraga ringan pada grade ini hanya menyebabkan peregangan mini alias robekan mikro nan sangat lembut pada serat jaringan.

Rasa nyeri tetap tergolong ringan, bengkak sedikit, dan bagian nan cedera tetap bisa digerakkan meski agak terbatas.

Pemulihan otot dan ligamen pada grade 1 biasanya hanya memerlukan waktu beberapa hari hingga dua minggu.

Grade 2 – Cedera Sedang

Pada grade 2, sudah terjadi robekan sebagian pada jaringan, baik itu cedera ligamen, cedera tendon, maupun robekan otot nan belum sempurna.

Bengkak lebih terlihat, nyeri lebih kuat, dan keahlian bergerak berkurang cukup signifikan.

Kondisi ini umumnya memerlukan support tenaga medis dan waktu pemulihan nan lebih panjang.

Grade 3 – Cedera Berat

Ini adalah tingkatan paling parah. Jaringan mengalami robekan otot alias ligament tear nan berkarakter total—putus sepenuhnya.

Instabilitas sendi sangat terasa, dan bagian nan cedera nyaris tidak bisa digunakan sama sekali.

Cedera olahraga berat seperti ini seringkali memerlukan tindakan medis lanjutan, termasuk arthroscopy alias operasi.

Soal sprain vs strain mana nan lebih parah, jawabannya tidak bisa ditentukan hanya dari jenisnya. nan menentukan keparahan adalah gradenya.

Cedera ligamen vs cedera otot keduanya bisa ringan, sedang, alias berat tergantung pada kondisi masing-masing.

Cara Mengobati Sprain dan Strain dengan Metode RICE

Pengobatan sprain dan strain nan pertama dan paling krusial adalah pertolongan pertama nan tepat.

Metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) adalah langkah nan sudah lama diakui secara medis untuk menangani cedera jaringan lunak di tahap awal.

Cara ini bisa dilakukan sendiri di rumah, terutama untuk cedera olahraga ringan.

Rest – Istirahat

Hentikan aktivitas dan istirahatkan bagian nan cedera. Jangan memaksakan diri untuk tetap bergerak hanya lantaran nyeri tetap terasa ringan.

Memaksakan penggunaan sendi, pergelangan kaki, lutut, paha, alias hamstring nan terluka justru berisiko memperparah robekan nan sudah ada.

Ice – Kompres Es

Segera lakukan kompres es pada area nan cedera selama 15 hingga 20 menit, dan ulangi setiap 2 hingga 3 jam dalam dua hari pertama.

Kompres es membantu mengurangi pembengkakan dan meredakan peradangan jaringan.

Jangan tempelkan es langsung ke kulit—bungkus dulu dengan handuk alias kain agar kulit tidak mengalami radang dingin.

Compression – Balut dengan Perban

Gunakan perban elastis untuk membungkus area nan cedera. Pembalutan ini membantu menekan jaringan agar bengkak pada sendi tidak semakin meluas.

Pastikan pembalutan tidak terlalu kencang—jika jari terasa kebas alias kulit berubah warna, kendurkan sedikit perban elastis tersebut.

Elevation – Angkat Lebih Tinggi

Posisikan bagian nan cedera lebih tinggi dari letak jantung. Misalnya, jika pergelangan kaki nan cedera, berbaringlah dan ganjal kaki dengan bantal.

Cara ini membantu mengurangi aliran darah ke area cedera sehingga memar pada jaringan lunak dan pembengkakan bisa ditekan seminimal mungkin.

Perawatan Lanjutan: Fisioterapi dan Rehabilitasi

Setelah kondisi akut mereda—biasanya setelah dua hingga tiga hari—perawatan cedera otot dan ligamen kudu dilanjutkan ke tahap rehabilitasi cedera.

Tujuannya adalah memulihkan kekuatan dan kelenturan jaringan nan cedera agar tubuh bisa kembali berfaedah normal.

Fisioterapi adalah pilihan utama pada tahap ini. Fisioterapis bakal merancang program terapi bentuk nan disesuaikan dengan kondisi pasien, mulai dari latihan penguatan otot ringan, latihan keseimbangan, hingga latihan koordinasi gerak.

Proses pemulihan otot dan ligamen nan dilakukan secara berjenjang terbukti lebih efektif dan kondusif dibandingkan langsung kembali beraktivitas penuh.

Untuk cedera tingkat sedang hingga berat, sebaiknya berkonsultasi dengan master ortopedi alias master olahraga.

Mereka dapat menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut alias tindakan khusus.

Pada kasus cedera ligamen nan parah dan tidak membaik dengan perawatan biasa, tindakan arthroscopy mungkin direkomendasikan.

Cara Mencegah Sprain dan Strain

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Ada beberapa langkah sederhana nan bisa dilakukan untuk mengurangi akibat cedera jaringan lunak (soft tissue injury):

  • Lakukan pemanasan sebelum berolahraga untuk mempersiapkan ligamen, tendon, dan otot menghadapi beban aktivitas
  • Pelajari dan terapkan teknik olahraga nan betul sesuai jenis aktivitas nan dilakukan
  • Latih kekuatan otot-otot penstabil sendi secara rutin agar sendi lebih terlindungi
  • Hindari peregangan otot secara tiba-tiba tanpa pemanasan nan memadai terlebih dahulu
  • Perhatikan permukaan tempat berolahraga—permukaan nan tidak rata meningkatkan akibat keseleo pergelangan kaki
  • Gunakan dasar kaki dan perlengkapan olahraga nan sesuai dengan jenis aktivitas

Kapan Harus ke Dokter?

Cedera olahraga ringan biasanya bisa ditangani sendiri di rumah dengan metode RICE.

Namun, ada beberapa kondisi nan sebaiknya tidak ditunda untuk segera diperiksa oleh master ortopedi alias master olahraga:

  • Nyeri otot alias nyeri sendi tidak berkurang setelah beberapa hari meski sudah ditangani dengan metode RICE
  • Bengkak pada sendi tidak kunjung mengempis alias justru semakin parah
  • Sendi terasa sangat tidak stabil alias tidak bisa menopang berat badan sama sekali
  • Instabilitas sendi nan terus bersambung setelah beberapa hari
  • Memar pada jaringan lunak nan sangat luas dan disertai rasa nyeri nan intens
  • Bunyi “pop” saat cedera terjadi—ini bisa menjadi tanda robekan serius pada ligamen alias tendon

Cedera olahraga berat dengan tingkat keparahan cedera (grade 1, 2, 3) di level 3 selalu memerlukan penanganan medis.

Jangan tunda konsultasi jika indikasi nan dialami tidak membaik—penanganan nan tepat dan sigap adalah kunci agar pemulihan melangkah lebih baik.

Kesimpulan tentang Perbedaan Sprain dan Strain

Perbedaan sprain dan strain terletak pada jaringan nan terluka: sprain adalah cedera pada ligamen, sedangkan strain adalah cedera pada otot alias tendon.

Meski indikasi sprain dan strain tampak serupa, langkah membedakan sprain dan strain bisa dilakukan dari letak nyeri dan gimana cedera itu terjadi.

Metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) adalah langkah pertolongan pertama nan paling dianjurkan untuk cedera jaringan lunak (soft tissue injury).

Setelah fase akut berlalu, rehabilitasi cedera berbareng fisioterapis menjadi tahap krusial untuk memastikan pemulihan otot dan ligamen nan menyeluruh.

Yang perlu selalu diingat: sprain vs strain mana nan lebih parah bukan soal jenisnya, melainkan soal tingkat keparahannya.

Oleh lantaran itu, setiap cedera perlu ditangani secara cermat. Jika ragu, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter—karena penanganan nan tepat sejak awal bakal sangat menentukan proses pemulihan ke depannya.

Jika mau berkonsultasi tentang nyeri dengkul dan sendi dengan master mahir Klinik Patella dapat menghubungi melalui WA di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda berbareng Klinik Patella!

Pertanyaan Seputar Perbedaan Sprain dan Strain

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan nan muncul seputar topik perbedaan sprain dan strain:

Apa perbedaan utama antara sprain dan strain?

Perbedaan utamanya terletak pada jaringan nan cedera. Sprain adalah cedera pada ligamen, ialah jaringan nan menghubungkan tulang dengan tulang di sekitar sendi.

Sedangkan strain adalah cedera pada otot alias tendon, ialah jaringan nan menghubungkan otot dengan tulang.

Sprain sering terjadi akibat sendi nan terplintir, sementara strain terjadi akibat otot nan meregang alias berkontraksi secara berlebihan.

Apa saja indikasi nan muncul pada sprain dan strain?

Gejala sprain dan strain cukup mirip lantaran keduanya termasuk cedera jaringan lunak. Gejalanya meliputi nyeri di area nan cedera, bengkak, memar, keterbatasan gerak, dan kekakuan.

Pada sprain nan parah, penderita juga bisa merasakan instabilitas sendi, ialah sendi nan terasa goyang alias tidak stabil. Sementara pada strain, nyeri condong terasa lebih dalam di area otot.

Bagaimana langkah mengobati sprain dan strain di rumah?

Penanganan pertama nan dianjurkan adalah metode RICE, yaitu:

  • Rest (istirahatkan area cedera)
  • Ice (kompres es selama 15–20 menit setiap 2–3 jam)
  • Compression (balut dengan perban elastis)
  • Elevation (angkat bagian nan cedera lebih tinggi dari posisi jantung)

Metode ini efektif untuk meredam pembengkakan dan peradangan pada tahap awal, terutama untuk cedera olahraga ringan.

Kapan sprain dan strain perlu ditangani oleh dokter?

Segera periksakan diri ke master ortopedi alias master olahraga jika:

  • Nyeri dan bengkak tidak membaik setelah beberapa hari
  • Sendi terasa sangat tidak stabil
  • Penderita sama sekali tidak bisa menopang berat badan pada area nan cedera.

Terdengarnya bunyi “pop” saat cedera terjadi juga menjadi tanda bahwa cedera perlu dievaluasi secara medis, lantaran bisa mengindikasikan robekan ligamen alias tendon nan serius.

Selengkapnya