Publik Makin Anti Ai, Ceo Teknologi Mulai Frustrasi

Sedang Trending 10 jam yang lalu

Telset.id – Industri teknologi dunia sekarang tengah menghadapi kejadian asing nan disebut sebagai “gelembung AI”, di mana dorongan masif dari para elit teknologi justru disambut dengan permusuhan aktif oleh masyarakat umum. Data pasar terbaru menunjukkan adanya kesenjangan ekstrem antara narasi optimis para CEO dengan realitas mengambil konsumen nan rendah, terutama mengenai kesediaan bayar jasa kepintaran buatan.

William Quinn, penulis kitab sejarah ekonomi Boom and Bust, mencatat anomali nan terjadi pada tren AI saat ini. Menurutnya, nyaris setiap ledakan teknologi besar dalam sejarah—mulai dari listrik, sepeda, hingga mobil—selalu disambut dengan antusiasme publik, meski dibarengi sedikit ketakutan. Namun, AI dinilai unik lantaran memicu permusuhan aktif tanpa antusiasme nan sepadan dari masyarakat luas.

Kondisi ini membikin para pemimpin raksasa teknologi merasa “tersakiti”. CEO Nvidia, Jensen Huang, dalam sebuah wawancara baru-baru ini mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebut bahwa narasi negatif tentang “kiamat AI” nan digaungkan oleh tokoh-tokoh terhormat telah merusak gambaran teknologi tersebut. Padahal, Nvidia sendiri kerap melontarkan kritik regulasi nan dianggap menghalang penemuan mereka.

Senada dengan Huang, CEO OpenAI Sam Altman juga mengakui adanya halangan dalam penyerapan AI di masyarakat. Dalam Cisco AI Summit, Altman menyebut bahwa memandang apa nan mungkin dilakukan teknologi ini, proses adopsinya terasa “sangat lambat”. Padahal, beragam penemuan seperti game AI dan asisten virtual terus digelontorkan ke pasar.

Sikap melindungi para CEO ini tampaknya mengabaikan info sentimen konsumen nan valid. Survei Pew Research tahun 2025 menemukan bahwa sekitar 60 persen responden menginginkan “kontrol lebih besar” atas penggunaan AI dalam hidup mereka. Hanya 17 persen nan merasa nyaman jika teknologi ini tetap berada di tangan segelintir miliarder teknologi.

Bukti paling memberatkan datang dari info perilaku konsumen. Pada pertengahan 2025, di saat para analis tetap membeo soal potensi untung AI, jumlah pengguna AI di Amerika Serikat nan secara rutin bayar jasa tersebut hanya mencapai nomor 3 persen. Angka ini sangat mini mengingat besarnya investasi prasarana nan telah dikeluarkan.

Rendahnya nomor pengguna berbayar ini mengindikasikan bahwa masalah utamanya mungkin bukan pada sikap masyarakat, melainkan pada nilai guna teknologi itu sendiri. Skeptisisme ini apalagi sudah terlihat di internal perusahaan teknologi, seperti saat karyawan Google mengkritik peluncuran chatbot mereka sendiri nan terburu-buru.

Jika pengguna aktif saja enggan mengeluarkan duit untuk jasa tersebut, narasi tentang revolusi produktivitas nan digadang-gadang para CEO tampaknya tetap jauh panggang dari api. Pasar mulai menyadari bahwa “gelembung AI” ini mungkin lebih rentan daripada nan diakui oleh para pembuatnya.

Selengkapnya