Analis Ini Wanti-wanti Investor Bitcoin Menyoal ‘zona Pembantaian’

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

– Bitcoin (BTC) nan sedang mengalami ketidakpastian membikin penanammodal tetap banyak nan ragu untuk masuk kembali. Tekanan nan terjadi sejak Oktober 2025 membikin banyak analis dan trader berasumsi bahwasanya pasar mata uang digital telah masuk ke dalam fase bearish.

Salah satu analis centang biru di media sosial X dengan nama samaran ‘Sherlock’, apalagi memperingatkan soal adanya potensi ancaman nan mengincar.

Berdasarkan pengamatan nan dia lakukan baru-baru ini, Sherlock menyampaikan bahwa jika Bitcoin memantul naik ke area US$ 72.000 – US$ 76.000, pergerakan itu belum tentu menandakan pemulihan. Ia beranggapan bahwa rentang tersebut justru berpotensi menjadi ‘zona pembantaian’, area di mana tekanan jual besar menunggu dan banyak pelaku pasar memanfaatkan reli untuk keluar dari posisi rugi.

Salah satu sumber tekanan menurutnya berasal dari Microstrategy (Strategy), nan memegang 714.644 BTC dengan nilai rata-rata sekitar US$ 76.052. Di nilai sekitar US$ 68.000, posisi itu disebut tetap berada dalam kondisi rugi miliaran dolar.

“Karena itu, setiap reli mendekati US$ 74.000 – US$ 76.000 bakal membawa porsi pasokan Bitcoin nan besar semakin dekat ke titik impas. Titik inilah di mana sering kali menjadi tempat jual dimulai, bukan tempat jual berhenti,” ungkap Sherlock.

Faktor kedua nan dia soroti adalah ETF Spot Bitcoin. Sherlock menyebut rata-rata nilai masuk ETF berada di kisaran US$ 84.000 – US$ 90.000, sementara sekitar 1,28 juta BTC nan tersimpan di produk ETF tetap ‘tertekan’, lantaran nilai pasar lebih rendah.

“Kompleks ETF telah mengalami arus keluar bersih dari US$ 6 miliar sejak November 2025, sehingga narasi nan mengatakan bahwa lembaga membeli saat turun tidak sepenuhnya akurat. Sebagian pelaku justru mendistribusikan saat ada kekuatan harga,” ujarnya.

Baca Juga: Bitcoin Tutup Dua Pekan di Atas EMA200, Analis Waspadai Gelombang Jual Berikutnya

Terakhir, Sherlock menjelaskan tekanan bakal datang dari struktur biaya kebanyakan pemegang pasar. Ia menyebut 63 persen dari total ‘Invested Bitcoin Wealth’ mempunyai cost pedoman di atas US$ 88.000, artinya banyak modal nan masuk pada siklus 2024-2025 tetap dalam posisi rugi.

Di kondisi rugi 15-25 persen, lanjutnya, reli apa pun nan mendekatkan nilai ke cost pedoman biasanya memicu perilaku ‘jual untuk kembali modal’.

“Tekanan paling sigap terasa di US$ 72.000 – US$ 76.000, lantaran itu adalah area pertama di mana kerugian mulai ‘terpangkas’ dan dorongan untuk kelua makin besar,” kata Sherlock.

Dengan tiga aspek tersebut, Sherlock menyimpulkan area US$ 72.000 – US$ 76.000 menjadi klaster suplai nan sangat padat, ialah ada cost pedoman Strategy di sekitar US$ 76.000, ada level breakdown sebelumnya (ia menyinggung US$ 74.000 nan sempat jadi support sebelum gagal), serta area akumulasi volume tinggi pada Q4 2025. Karena itu, dia memperingatkan reli ke area itu berisiko besar menghadapi jual berkali-kali dari “modal terjebak”.

“Sekarang, semua pemain besar bakal berupaya menjual saat nilai naik. Setiap reli ke area ini bakal menghadapi pengedaran dari modal nan terperangkap dan sebaiknya Anda jangan mengejar para komedian CT nan membikin Anda percaya bahwa ini adalah titik terendah,” pungkas Sherlock.

BTC rallying into $72K-$76K will not a recovery. It’ll be a straight the kill zone. Don’t fall for this trap.

Let me explain why.

MicroStrategy is holding 714,644 BTC at an average cost pedoman of $76,052. That is 3.4% of all Bitcoin that will ever exist. At $68K, that position…

— Sherlock | DeFi Researcher (@Sherlockwhale) February 17, 2026

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya