Analis: Us$ 85.000 Bisa Jadi Resistensi Terberat Bitcoin Selama 6 Bulan

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

– Harga Bitcoin (BTC) kembali memberikan berita nan kurang menyenangkan, saat harganya turun kembali hingga di bawah US$ 80.000. Penurunan diketahui telah terjadi sejak mata uang digital utama tersebut menyentuh harga puncak tertinggi (ATH) pada Oktober 2025.

Hal in pun menjadi sorotan di kalangan analis, salah satunya analis mata uang digital papan atas di media sosial X dengan nama samaran ‘Sherlock’. Berdasarkan hasil risetnya, Sherlock memperingatkan bahwa area US$ 85.000 berpotensi menjadi resistensi terberat Bitcoin dalam separuh tahun mendatang, bukan lantaran garis teknikal semata, namun lantaran ‘tumpukan’ penanammodal nan terjebak rugi dan menunggu kesempatan keluar.

Menurut Sharelock, banyak pembeli nan masuk di rentang US$ 85.000 – US$ 108.000 dalam tiga bulan terakhir sekarang berada dalam posisi merugi. Kondisi ini menciptakan overhead supply, saat nilai naik mendekati US$ 85.000, para pemegang nan ‘underwater’ mendapat kesempatan pertama untuk kembali ke titik impas.

“Di momen ini, sebagian besar diperkirakan bakal memilih menjual cepat, dan itulah nan memunculkan tekanan jual di setiap upaya reli,” ungkap Sharelock.

Yang membikin area ini berbeda dari resistensi biasa, adalah besarnya aktivitas transaksi nan terjadi di sana. Dia menyebut sekitar US$ 120 miliar volume spot diperdagangkan di rentang nilai US$ 85.000 – US$ 95.000 sepanjang Oktober – Desember 2025. Dengan kata lain, itu bukan area tipis nan mudah ditembus, melainkan ‘benteng’ modal nan nyangkut.

“Dalam perbandingannya, kita bisa memandang fase konsolidasi pada Maret 2024 di rentang US$ 60.000 – US$ 70.000 nan perkiraan bisa menampung sekitar US$ 80 miliar volume,” ujarnya.

Baca Juga: Sentimen Negatif Mendominasi, Harga Uang Kripto Ethereum Jatuh 10%

Jika angka-angka ini dipakai sebagai acuan, lanjutnya, konsolidasi US$ 85.000 – US$ 95.000 menahan sekitar 50 persen lebih banyak modal ‘terjebak’ dibanding konsolidasi besar sebelumnya di siklus ini.

Dengan nilai Bitcoin nan sebut berada di sekitar US$ 78.000, jarak menuju US$ 85.000 hanya sekitar 9 persen.

“Namun reli 9 persen itu justru beresiko menabrak gelombang jual, lantaran banyak pelaku pasar nan sudah capek menahan rugi dan menunggu ‘exit’ nan masuk akal,” kata Sherlock.

Dirinya juga menambahkan dinamika psikologis waktu. Ia menyatakan rata-rata lama tahan posisi nan merugi biasanya berada di kisaran 45-90 hari sebelum banyak orang menyerah.

“Pasar saat ini berada di sekitar hari ke-60. Artinya jika Bitcoin kandas merebut kembali US$ 85.000 dalam sekitar 30 hari ke depan, perilaku pemegang bisa berubah dari menunggu kembali modal menjadi jual di setiap rebound. Ini berpotensi membikin US$ 85.000 menjadi plafon berbulan-bulan,” pungkas Sherlock.

$85,000 is about to become Bitcoin’s biggest resistance for the next 6 months.

Everyone who bought between $85K-$108K over the past 3 months is underwater. That’s overhead supply. Trapped longs.

When price rallies back to $85K, all those underwater will holders get their first… pic.twitter.com/3MdWkzUt5J

— Sherlock | DeFi Researcher (@Sherlockwhale) February 1, 2026

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya