Bitcoin Vs Emas, Analis Fidelity Nilai Emas Mahal Relatif Terhadap Btc

Sedang Trending 1 hari yang lalu

– Analis makro dari perusahaan Fidelity Jurrien Timmer menegaskan pandangan lamanya bahwa Bitcoin (BTC) sebaiknya diposisikan sebagai ‘pemain junior nan aspiratif’ dalam third hard money, bukan sebagai aset pamungkas nan bakal ‘memakan’ semua kelas aset lain.

Dalam kerangka Timmer, emas tetap menjadi quarterback, sementara Bitcoin dan perak adalah opsi sekunder nan bisa saling bergantian memimpin fase naik dan turun. Karena itu, dia menyarankan penanammodal menilai Bitcoin melalui lensa rasio emas/Bitcoin, mirip langkah pasar membaca rasio emas/perak alias emas/penambang.

Dari lensa itu, Timmer memandang parameter nan berpotensi membantu menjawab pertanyaan klasik, ialah di mana dasar Bitcoin terbentuk. Ia mengaitkan pembacaan tersebut dengan dua elemen, ialah power law Bitcoin dan dinamika rasio emas terhadap Bitcoin nan diukur lewat Z-score.

Pada diagram power law, Timmer menilai area US$ 60.000 tampak sebagai kandidat support penting.

“Bukan hanya lantaran level ini bersenggolan dengan struktur puncak-dasar historis, namun juga lantaran berada di dekat garis support power law, nan bakal mengejar nilai seiring waktu jika Bitcoin berkonsolidasi sembari mengisi area nilai (backing and filling),” ungkap Timmer.

Namun Timmer tidak berakhir di diagram harga. Ia menyoroti panel bawah nan menampilkan Z-score rasio emas/perak (biru) dan rasio emas/Bitcoin (oranye).

Baca Juga: Dipengaruhi Tren Positif, Harga Uang Kripto Cardano Melonjak 10%

Inti pembacaannya, saat ini emas terlihat “murah” dibanding perak, tetapi emas terlihat “mahal” dibanding Bitcoin. Kondisi ini mengarah pada kemungkinan bahwa Bitcoin tetap berada dalam fase penyesuaian relatif terhadap emas, meski Timmer menegaskan sinyalnya belum mencapai ekstrem seperti nan terlihat pada titik-titik kembali besar sebelumnya.

Di sinilah bagian nan paling krusial dari catatan Timmer, ialah pada fase-fase ekstrem sebelumnya, Z-score emas/Bitcoin sering menghasilkan divergence nan berguna.

“Pada puncak 2021 dan 2025, Z-score memunculkan bearish divergence ketika Bitcoin mencetak puncak baru, sementara pada dasar 2022, parameter itu memunculkan bullish divergence,” ujarnya.

Saat ini, lanjutanya, divergence bullish seperti itu belum muncul, dan level sinyal nan dia sebut berada di sekitar 91 persen, juga belum setajam ekstrem nan biasanya mengiringi titik bottom.

“Fase seperti ini jarang terasa menyenangkan, tetapi justru itulah karakter pasar ketika sentimen terkikis dan nilai dipaksa ‘membuktikan’ dasar sebelum siklus berikutnya terbuka,” pungkas Timmer.

It has been my view all along that Bitcoin is an aspirational junior player on the hard money team (led by gold), and not the end-all-be-all store of value that is going to “eat” all other asset classes. Gold has been and, in my view, will always be the quarterback on this team,… pic.twitter.com/em8wtSz05L

— Jurrien Timmer (@TimmerFidelity) February 27, 2026

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya