Bayangkan sebuah studio nan bisa menghidupkan kembali mahakarya nan telah lama tertidur, memberikan nafas baru pada kenangan paling berbobot para gamer. Itulah Bluepoint Games. Namun, dalam sebuah keputusan nan mengguncang industri, Sony secara resmi mengumumkan penutupan studio berbakat di kembali remake epik Shadow of the Colossus dan Demon’s Souls tersebut. Sekitar 70 tenaga kerja bakal kehilangan pekerjaan mereka, menandai akhir dari sebuah era skill teknis nan langka. Apa nan sebenarnya terjadi di kembali layar raksasa PlayStation ini?
Dunia game sedang mengalami turbulensi. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penutupan studio seakan menjadi buletin rutin bulanan, mencerminkan ketidakpastian strategis di tengah pergeseran pasar. Dalam konteks ini, keputusan Sony untuk menutup Bluepoint Games bukan sekadar nomor statistik. Ini adalah keputusan strategis nan menyentuh langsung jantung salah satu kekuatan terbesar PlayStation: warisan klasiknya. Studio nan diakuisisi dengan fanfare pada 2021 ini dianggap sebagai penjaga kekayaan karun digital Sony, namun sekarang nasibnya berhujung di bulan Maret.
Laporan dari Bloomberg mengungkap bahwa keputusan ini diambil menyusul “tinjauan upaya terbaru” oleh Sony. Pernyataan resmi perusahaan tetap menghormati kontribusi Bluepoint, menyebut mereka sebagai “tim nan sangat berbakat” dengan “keahlian teknis nan memberikan pengalaman luar biasa bagi organisasi PlayStation.” Namun, di kembali kata-kata nan sopan tersembunyi sebuah narasi nan lebih kompleks dan mungkin lebih suram tentang masa depan game AAA dan strategi live-service Sony nan bermasalah. Mari kita selami lebih dalam.
Bluepoint Games bukan studio biasa. Reputasinya dibangun di atas fondasi nan kokoh: keahlian luar biasa untuk tidak hanya meremaster, tetapi betul-betul membangun ulang game-game ikonik dengan fidelity visual generasi berikutnya sembari menjaga jiwa aslinya. Shadow of the Colossus untuk PS4 adalah sebuah karya seni nan diakui secara universal, sebuah penghormatan nan sekaligus menjadi standar baru. Demon’s Souls untuk PS5 adalah titah masuk nan sempurna ke generasi baru, menunjukkan kekuatan console secara visual.
Kontribusi terakhir mereka nan diketahui adalah sebagai co-developer untuk God of War: Ragnarok pada 2022, bekerja sama dengan Sony Santa Monica. Posisi ini menunjukkan kepercayaan nan tinggi dari Sony. Namun, pasca Ragnarok, laporan menyebut Bluepoint dialihkan untuk mengerjakan proyek nan sangat ambisius sekaligus berisiko: sebuah game live-service nan berlatar di alam semesta God of War. Proyek inilah nan konon dibatalkan pada 2025, berbarengan dengan game live-service lain dari Bend Studio.
Pembatalan ini menjadi titik kritis. Tanpa proyek besar nan sedang berjalan, nilai strategis Bluepoint di mata Sony mungkin dipertanyakan. Dalam bumi korporat nan dingin, skill teknis nan dahsyat saja tidak cukup jika tidak selaras dengan arah strategis perusahaan nan sedang berubah-ubah. Keputusan penutupan ini, sayangnya, menjadi babak baru dalam tren akhir tragis bagi banyak studio di industri.
Kegagalan Live-Service: Akar Masalah Strategis Sony?
Di sinilah kajian menjadi menarik. Penutupan Bluepoint tidak dapat dipisahkan dari narasi besar dan bergolak tentang ambisi live-service Sony. Perusahaan telah melakukan investasi besar-besaran ke dalam aliran ini, dengan hasil nan bisa dibilang sangat mengecewakan. Ingat Concord? Game shooter multiplayer itu menjadi salah satu kegagalan terbesar tahun lalu, dengan server nan ditutup hanya dua minggu setelah rilis. Tak lama kemudian, Sony juga menutup Firewalk Studios, developer di kembali Concord.
Pola ini mengkhawatirkan. Sony membeli alias menugaskan studio untuk membikin game live-service, lampau ketika proyek kandas alias dibatalkan, studio tersebut menjadi “tidak diperlukan” dan ditutup. Bluepoint, dengan spesialisasi remake-nya, mungkin merasa seperti ikan nan dipaksa memanjat pohon ketika ditugaskan membikin game live-service God of War. Ketika proyek itu dibatalkan—sebagaimana diungkap dalam laporan tentang pembatalan 2 game live-service—studio itu terjebak tanpa identitas nan jelas dalam struktur Sony nan baru.
Pertanyaannya, apakah ini merupakan mismanagement strategis? Sony tampaknya berlari ke arah live-service, lampau berbalik arah dengan tergesa-gesa, meninggalkan kebingungan dan kehancuran di belakangnya. Sementara beberapa studio seperti Guerrilla Games (dengan game ko-op Horizon) dan Bungie (Marathon) tetap melanjutkan, jejak kegagalan sudah terlanjur dalam. Keputusan terhadap Bluepoint terasa seperti pemotongan terhadap aset berbobot lantaran tidak cocok dengan rencana nan berantakan, sebuah langkah nan mungkin bakal disesali di masa depan.
Dampak dan Masa Depan nan Suram?
Dampak langsung paling nyata adalah hilangnya lapangan kerja bagi 70 developer berbakat. Dalam suasana industri nan sudah dipenuhi PHK, ini adalah pukulan berat. Lebih dari itu, organisasi gaming kehilangan penjaga warisan nan paling ahli. Siapa lagi nan bakal dipercaya Sony untuk menghidupkan kembali klasik seperti Legacy of Kain, Metal Gear Solid, alias Silent Hill dengan tingkat perhatian dan skill seperti Bluepoint?
Penutupan studio semacam ini juga memicu pertanyaan besar tentang keberlanjutan model upaya game AAA saat ini. Biaya produksi nan membumbung tinggi dan akibat nan masif mendorong publisher untuk hanya berfokus pada laris-manis (blockbuster) dan game dengan potensi monetisasi berkelanjutan. Studio dengan spesialisasi niche, sehebat apapun, menjadi rentan. Ini adalah cerita nan juga terlihat di tempat lain, seperti ancaman nan dihadapi Santa Ragione akibat kebijakan platform.
Industri game, seperti siklus hidup konsol, mempunyai pasang surutnya. Namun, gelombang penutupan studio belakangan ini terasa berbeda—lebih sistemik dan mengenai dengan strategi jangka pendek nan rapuh. Kepergian Bluepoint Games bukan hanya kehilangan sebuah studio, tetapi simbol dari pergeseran nilai. Dari nan menghargai warisan, seni, dan skill khusus, menuju nan hanya mengejar tren pasar nan fluktuatif. Dunia game kehilangan salah satu pemulih kenangannya, dan kita hanya bisa bertanya-tanya, classic PlayStation mana lagi nan sekarang mungkin tak bakal pernah memandang sinar baru.
Sebagai penutup, mari kita renungkan. Dalam gegap gempita rilis game baru dan trailer nan spektakuler, mudah melupakan bahwa di baliknya ada orang-orang, keahlian, dan sejarah. Keputusan hari ini bakal membentuk lanskap gaming besok hari. Apakah kita sedang menyaksikan koreksi strategi nan diperlukan, alias awal dari masa suram di mana produktivitas unik dikorbankan untuk kepentingan upaya nan tidak pasti? Waktu nan bakal menjawab. Namun, satu perihal pasti: warisan Bluepoint Games dalam corak Shadow of the Colossus dan Demon’s Souls nan telah diremak bakal tetap abadi, sebuah monumen atas apa nan bisa lenyap ketika strategi upaya mengabaikan nilai seni dan warisan.