Pernahkah Anda membayangkan sebuah bumi virtual nan menjadi pusat segala hubungan online? Ambisi besar itulah nan dulu digaungkan Meta dengan Horizon Worlds. Namun, seperti kapal nan mengubah hadapan di tengah badai, raksasa teknologi itu sekarang mengambil langkah strategis nan mengejutkan: memisahkan secara resmi platform Horizon Worlds dari ekosistem headset VR Quest-nya. Ini bukan sekadar perubahan kecil, melainkan sinyal kuat bahwa visi metaverse ala Mark Zuckerberg sedang mengalami transformasi mendasar.
Latar belakangnya adalah perjalanan panjang dan berliku. Meta telah menginvestasikan miliaran dolar ke dalam bagian Reality Labs, dengan Horizon Worlds sebagai salah satu ujung tombak mimpi metaverse-nya. Namun, tekanan finansial dan mengambil pengguna nan tidak secepat angan memaksa perusahaan untuk melakukan pertimbangan ulang. Sebelumnya, telah muncul laporan tentang potongan anggaran metaverse nan signifikan, menunjukkan bahwa ambisi tersebut mulai direm. Kini, keputusan untuk memisahkan kedua platform tersebut menjadi bukti nyata dari perubahan arah tersebut.
Dalam postingan blog terbarunya, Samantha Ryan, Wakil Presiden Konten di Reality Labs Meta, secara gamblang menjelaskan argumen di kembali perpecahan ini. Langkah ini bukan tanda kegagalan, melainkan strategi baru untuk memberi ruang tumbuh nan lebih jelas bagi kedua produk. Jika dulu Meta mau segala sesuatu terpusat dalam satu bumi virtual imersif, sekarang mereka memilih pendekatan nan lebih terfokus dan realistis.
Dua Jalur Baru nan Berbeda: VR untuk Game, Worlds untuk Mobile
“Kami secara definitif memisahkan platform VR Quest kami dari platform Worlds kami untuk menciptakan lebih banyak ruang bagi kedua produk untuk tumbuh,” tulis Ryan. Pernyataan ini menjadi kunci memahami strategi baru Meta. Intinya, mereka sedang “menggandakan” komitmen pada ekosistem developer VR sembari menggeser konsentrasi Horizon Worlds agar nyaris secara eksklusif melangkah di platform mobile.
Dengan memecahnya menjadi dua platform nan berbeda, Meta berambisi dapat lebih jelas dalam menentukan prioritas. Di satu sisi, Quest bakal terus menjadi rumah bagi pengalaman virtual reality nan mendalam, terutama untuk gaming. Di sisi lain, Horizon Worlds bakal beralih bentuk menjadi platform sosial dan imajinatif nan bisa diakses oleh siapa saja hanya dengan ponsel mereka. Ini adalah pengakuan bahwa untuk mencapai skala masif, jalan terbaik adalah melalui perangkat nan sudah ada di miliaran tangan pengguna, bukan melalui headset VR nan tetap niche.
Bersaing di Arena nan Sudah Ramai: Roblox dan Fortnite
Dengan konsentrasi ke mobile, Horizon Worlds secara otomatis memasuki arena nan sudah sangat padat. Ia sekarang bakal berhadapan langsung dengan raksasa seperti Roblox dan Fortnite, nan telah sukses membangun ekosistem bumi buatan pengguna (user-generated content) nan luas dan dapat dimonetisasi. Ini adalah pertarungan nan sulit, tetapi Meta percaya mereka membawa senjata rahasia: keahlian untuk terhubung dengan “miliaran orang di jejaring sosial terbesar di dunia.”
Integrasi dengan FB dan IG bisa menjadi pembeda utama. Bayangkan jika Anda bisa membagikan kreasi dari Horizon Worlds langsung ke feed IG Stories, alias membujuk kawan dari FB untuk berasosiasi dalam sebuah aktivitas virtual dengan sekali klik. Aksesibilitas dan jaringan sosial nan masif ini adalah modal nan tidak dimiliki oleh banyak pesaingnya. Meski demikian, apakah ini cukup untuk menarik pengguna nan sudah nyaman dengan Roblox? Hanya waktu nan bisa menjawab.
Masa Depan Quest: Tetap Kuat di Pasar Gaming VR
Lantas, apa nan terjadi dengan Quest? Justru di sinilah komitmen Meta tampaknya tetap kuat. Meski telah menutup beberapa studio game VR internalnya awal tahun ini, perusahaan tetap mau mendukung developer pihak ketiga. Mereka berjanji menghadirkan perangkat monetisasi baru, peningkatan discoverability game, tab “Deals,” dan lebih banyak langkah bagi developer untuk berkomunikasi dengan pengguna mereka.
Pemeliharaan dan pengembangan library game di Quest menjadi kritis, terutama dengan adanya rumor tentang headset Quest nan difokuskan untuk gaming. Laporan Business Insider pada Desember 2025 dan konfirmasi dari CTO Meta Andrew Bosworth pada Februari lampau mengindikasikan bahwa perusahaan tetap mempunyai beberapa perangkat Quest dalam peta jalan mereka. Ini sinyal bahwa Meta belum meninggalkan VR, mereka hanya memisahkannya dari beban visi metaverse nan terlalu ambisius.
Keputusan memisahkan Horizon Worlds ini tidak bisa dipisahkan dari komitmen publik Mark Zuckerberg nan sekarang lebih konsentrasi pada perangkat keras AI seperti kacamata pintar. Pergeseran konsentrasi perusahaan secara keseluruhan ini telah lama terendus, termasuk upaya pengembangan chip AI khusus untuk mendukung infrastrukturnya. Dunia virtual nan imersif dan selalu aktif (persistent) mungkin tetap menjadi mimpi jangka panjang, tetapi untuk saat ini, Meta memilih untuk berkonsentrasi pada teknologi nan dianggap lebih siap pasar dan lebih dekat dengan keseharian pengguna.
Ini adalah pengakuan nan pragmatis. Daripada memaksakan satu visi besar nan mahal dan belum terbukti, lebih baik membangun blok-blok fondasi nan solid—seperti platform sosial mobile nan masif dan perangkat keras AI nan canggih—yang suatu hari kelak mungkin bisa disatukan kembali. Narasi tentang platform metaverse mengambil alih dunia untuk sementara waktu digantikan dengan narasi nan lebih terukur dan terfokus.
Jadi, apakah ini akhir dari metaverse Meta? Tidak juga. Ini lebih seperti fase “remajanya” nan sedang mencari identitas baru. Horizon Worlds, nan lepas dari bayang-bayang Quest, sekarang ditantang untuk membuktikan dirinya sebagai platform mobile nan relevan dan menarik. Sementara itu, Quest dibebaskan untuk mengoptimalkan dirinya sebagai mesin gaming VR terdepan. Dalam jangka pendek, langkah ini mungkin terasa seperti mundur. Namun, dengan memandang dinamika pasar dan tekanan bisnis, ini justru bisa menjadi langkah paling pandai nan diambil Meta untuk memastikan kedua produk tersebut tidak tenggelam bersama, melainkan bisa berlayar di jalurnya masing-masing menuju kesuksesan nan lebih realistis. Masa depan bakal menunjukkan apakah strategi dua jalur ini bakal membawa Meta pada puncak nan diinginkannya, alias justru menjadi cerita tentang dua platform nan kehilangan arah tanpa visi pemersatu nan dulu digaungkan begitu lantang.