Bukan Cuma Akting! Ben Affleck Jual Startup Ai Rahasia Ke Netflix, Ini Detailnya

Sedang Trending 17 jam yang lalu

Industri intermezo Hollywood kembali dikejutkan oleh sebuah manuver upaya nan tidak terduga, namun kali ini bukan datang dari skandal selebriti alias perseteruan antar studio besar. Kejutan ini datang dari sosok tokoh papan atas, Ben Affleck, nan rupanya diam-diam telah menyelami bumi teknologi secara mendalam. Tanpa banyak gembar-gembor, Netflix secara resmi telah mengakuisisi sebuah startup teknologi berjulukan InterPositive.

Mungkin nama perusahaan ini terdengar asing di telinga Anda, dan itu adalah perihal nan wajar. InterPositive adalah perusahaan rintisan di bagian kepintaran buatan (AI) nan didirikan oleh Ben Affleck pada tahun 2022. Selama beberapa tahun terakhir, Affleck menjalankan perusahaan ini dalam mode senyap alias stealth mode, menjauhkan operasionalnya dari sorotan media dan publik hingga momen akuisisi ini terjadi. Langkah ini menjadi penanda “pesta penyambutan” besar bagi teknologi nan telah dikembangkan di kembali layar tersebut.

Kesepakatan ini bukan sekadar jual beli aset biasa, melainkan sebuah integrasi strategis antara talenta imajinatif dan teknologi masa depan. Meskipun nilai akuisisi tidak diungkapkan ke publik, akibat dari kesepakatan ini diprediksi bakal mengubah langkah Netflix memproduksi konten orisinal mereka. Seluruh staf InterPositive bakal diserap masuk ke dalam platform streaming raksasa tersebut, menandakan kesungguhan Netflix dalam mengangkat teknologi baru ini secara internal.

Manuver Senyap Ben Affleck di Dunia AI

Langkah Ben Affleck mendirikan InterPositive bukanlah keputusan impulsif. Aktor nan juga sutradara berbakat ini mendirikan perusahaan tersebut setelah melakukan pengamatan mendalam terhadap kebangkitan awal AI dalam proses produksi film. Affleck menyadari adanya celah nan signifikan; dia memandang gimana model-model AI nan ada saat itu “masih kurang memadai” alias came up short dalam memenuhi standar tinggi sinematografi profesional.

Ketidakpuasan terhadap perangkat nan ada mendorongnya untuk menciptakan solusi sendiri. InterPositive tidak dibangun untuk menggantikan peran sineas, melainkan untuk mengisi kekosongan kualitas nan belum bisa dicapai oleh teknologi generatif umum. Dengan akuisisi ini, Affleck tidak lantas lepas tangan begitu saja. Ia dipastikan bakal tetap berada di lingkungan Netflix dengan peran baru sebagai penasihat senior, memastikan visi awal teknologi ini tetap sejalan dengan kebutuhan para kreator film.

Ben Affleck Netflix AI

Strategi Netflix dalam memperkuat prasarana teknologinya memang patut diacungi jempol. Di tengah persaingan ketat jasa streaming, kepemilikan atas teknologi eksklusif menjadi kunci. Langkah ini mengingatkan kita pada beragam upaya ekspansi garang perusahaan sebelumnya, seperti rumor mengenai Investigasi DOJ terhadap kesepakatan besar lainnya, nan menunjukkan sungguh dinamisnya pergerakan upaya di sektor ini.

Bukan Sekadar Prompt Teks: Teknologi Berbasis Dailies

Salah satu poin paling krusial nan perlu Anda pahami mengenai teknologi InterPositive adalah langkah kerjanya nan berbeda dari persepsi umum tentang AI generatif. Di saat publik terbiasa dengan perangkat nan mengubah teks menjadi video (text-to-video), InterPositive mengambil pendekatan nan jauh lebih teknis dan spesifik untuk kebutuhan industri perfilman.

Affleck menegaskan bahwa teknologi nan dikembangkannya “bukan tentang text-prompting alias menghasilkan sesuatu dari ketiadaan.” Sebaliknya, perusahaan ini membikin perangkat nan menghasilkan model AI berasas dailies alias rekaman harian dari sebuah produksi nan sudah ada. Ini adalah perbedaan esensial nan menempatkan InterPositive sebagai perangkat bantu pasca-produksi (post-production), bukan perangkat kreator konten otomatis sejak nol.

Dengan menggunakan model nan dilatih dari materi syuting asli, para kreator movie dapat menggunakan teknologi ini dalam proses post-production untuk melakukan beragam tugas rumit dengan lebih efisien. Kemampuan perangkat ini mencakup proses mixing, pewarnaan (color grading), hingga pencahayaan ulang (relighting) pada sebuah adegan. Bahkan, teknologi ini bisa menambahkan pengaruh visual (VFX) nan menyatu dengan materi aslinya.

Teknologi AI Netflix

Penerapan teknologi semacam ini tentu memberikan untung efisiensi nan luar biasa. Bayangkan sebuah segmen nan pencahayaannya kurang sempurna saat syuting; alih-alih melakukan syuting ulang nan menyantap biaya besar, sutradara dapat menggunakan AI InterPositive untuk memperbaiki pencahayaan tersebut berasas info visual nan sudah ada. Ini adalah corak efisiensi nan sangat dicari oleh studio besar, terutama ketika menghadapi pesaing nan juga agresif, seperti saat Paramount Luncurkan strategi untuk menahan laju Netflix.

Implementasi Nyata: Dari The Eternaut hingga Iklan

Meskipun baru saja diumumkan secara luas, teknologi InterPositive sebenarnya sudah mulai diterapkan dalam proyek nyata. Netflix mengungkapkan bahwa perusahaan ini baru-baru ini menggunakan perangkat AI generatif mereka untuk mengerjakan sebuah pengaruh visual (VFX) dalam aktivitas berjudul The Eternaut. Hal ini membuktikan bahwa perangkat tersebut sudah berada pada tahap matang dan siap pakai untuk produksi skala besar.

Selain untuk movie dan serial, teknologi ini juga telah digunakan untuk membikin iklan menjadi lebih intrusif alias menarik perhatian. Penggunaan dalam ranah periklanan menunjukkan elastisitas perangkat ini dalam beragam format media visual. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah para pembuat bakal tetap menjadi pusat dari proses imajinatif ini?

Ben Affleck AI Startup

Netflix sendiri telah memberikan agunan bahwa perusahaan bakal tetap menempatkan “pembuat movie sebagai pusat dari proses.” Janji ini tentu perlu dikawal pembuktiannya seiring berjalannya waktu. Kita kudu menunggu dan memandang apakah para pembuat betul-betul tetap memegang kendali utama, alias apakah efisiensi algoritma perlahan bakal menggeser peran artistik manusia.

Filosofi Affleck: Menjaga Sentuhan Manusia

Satu perihal nan menarik dari akuisisi ini adalah pemahaman Ben Affleck nan cukup bernuansa mengenai perangkat AI modern. Ia tidak memandang AI sebagai pengganti mutlak, melainkan perangkat nan kudu tunduk pada penilaian manusia. “Kita juga perlu melestarikan apa nan membikin penceritaan itu manusiawi, ialah penilaian (judgment),” ujar Affleck dalam sebuah pernyataan.

Menurutnya, jenis penilaian artistik nan dimiliki manusia adalah sesuatu nan memerlukan waktu puluhan tahun untuk dibangun. Pengalaman untuk mengasah rasa dan hatikecil bercerita adalah sesuatu nan “hanya bisa dimiliki oleh manusia.” Pernyataan ini seolah menjadi tembok pertahanan bagi para seniman di tengah gempuran otomatisasi.

Affleck merasa mempunyai tanggung jawab moral terhadap rekan-rekan seprofesinya. “Saya tahu saya mempunyai tanggung jawab kepada rekan-rekan saya dan industri kami, untuk melindungi kekuatan produktivitas manusia dan orang-orang di baliknya,” tambahnya. Ini adalah pesan nan kuat, mengingat banyak kekhawatiran di Hollywood bahwa AI bakal merebut lapangan pekerjaan kreatif. Pendekatan Affleck nan humanis ini mungkin menjadi argumen kenapa Netflix tertarik, selain dari aspek teknologinya. Ini sejalan dengan upaya Netflix memperluas portofolio mereka, mirip dengan saat Netflix Akuisisi Game developer untuk memperkaya ekosistem intermezo mereka.

Startup AI InterPositive

Eksklusivitas untuk Mitra Kreatif

Bagi Anda nan berambisi bisa membeli alias menggunakan software canggih ini untuk proyek pribadi, Anda kudu bersiap kecewa. Netflix menegaskan bahwa mereka tidak mempunyai rencana untuk menjual teknologi InterPositive secara komersial. Alat ini tidak bakal menjadi produk SaaS (Software as a Service) nan bisa dilanggan oleh publik umum.

Sebaliknya, Netflix bakal menawarkan akses ke teknologi InterPositive secara eksklusif kepada para mitra imajinatif mereka. Ini berfaedah sutradara, editor, dan tim VFX nan bekerja di bawah payung produksi Netflix bakal mendapatkan privilese untuk menggunakan perangkat canggih ini. Strategi ini jelas ditujukan untuk meningkatkan kualitas konten orisinal Netflix sekaligus memberikan daya tarik lebih bagi para sineas top untuk bekerja sama dengan platform tersebut.

Namun, perlu diingat kembali bahwa kendali perusahaan sekarang sudah beranjak tangan. Meskipun Affleck mempunyai visi mulia tentang perlindungan produktivitas manusia, InterPositive sekarang sepenuhnya milik Netflix. Affleck sekarang “hanya” seorang penasihat. Sejarah mencatat bahwa arah kebijakan korporasi bisa berubah sewaktu-waktu tergantung tuntutan pasar dan profitabilitas. Apakah visi humanis Affleck bakal terus dipegang teguh oleh Netflix dalam jangka panjang? Hanya waktu nan bisa menjawabnya.

Akuisisi ini menambah daftar panjang investasi Netflix dalam teknologi. Dengan mengintegrasikan perangkat post-production berbasis AI nan canggih ke dalam alur kerja mereka, Netflix berpotensi mempercepat waktu produksi dan meningkatkan kualitas visual konten mereka secara drastis. Bagi penonton, ini mungkin berfaedah bakal ada lebih banyak konten berbobot visual tinggi nan bisa dinikmati dalam waktu dekat. Bagi industri, ini adalah sinyal bahwa AI sudah bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan tulang punggung baru dalam proses pembuatan movie profesional.

Selengkapnya