Mengapa Banyak Trader Terlambat Menyadari Pergeseran Tren?

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

– Saat pasar mulai mengalami perubahan tren, banyak orang terkadang tetap bingung antara perubahan alias sekedar koreksi. Hal inilah nan membikin banyak penanammodal terkadang salah langkah, dan sering kalin mengalami kerugian.

Salah satu trader terkenal di media sosial X, dengan nama akun Rawl membeberkan salah satu tips perdagangan terbaru. Berdasarkan pengalamannya, dia menilai banyak pelaku pasar keliru membaca kapan tren betul-betul berubah.

Dalam perihal ini, dia menjelaskan bahwa ketika kebanyakan orang sudah kompak menyebut kondisi sebagai bull alias bear market, kesempatan terbaik justru sudah lewat.

“Penyebabnya sederhana, ialah label datang belakangan, sementara perpindahan tren terjadi lebih awal. Ini terlihat dari struktur nilai dan likuiditas, bukan dari parameter alias narasi,” ungkap Rawl.

Rawl menyebut, langkah paling dasar untuk membaca tren adalah memandang break of structure (BOS), momen ketika rangkaian high/higher low (tren naik) berganti menjadi lower high/lower low (tren turun), alias sebaliknya.

“Banyak pemula terjebak lantaran terlalu konsentrasi pada momen nilai menembus level populer, padahal perubahan struktur sudah dimulai sebelumnya,” ujarnya.

Dia mencontohkan pada siklus 2021-2022, di mana banyak orang menyebut ‘bear market’ ketika Bitcoin kehilangan area nan dianggap kunci (seperti US$ 28.000). Namun dari perspektif price action, Rawl menilai downtrend sebenarnya sudah dimulai lebih awal di sekitar US$ 57.600, dan dari sanalah penurunan besar menuju area bawah terjadi.

Konsep tersebut, lanjutnya, dikaitkan dengan kondisi saat ini. Menurutnya, wajar jika banyak nan menyebut situasi sekarang ‘bear market’, lantaran terasa mirip dengan pola sebelumnya, ialah ketika level-level tertentu runtuh dan pasar terlihat lemah.

“Namun perubahan tren sudah terjadi pada tanggal 10 Oktober lalu, ketika struktural uptrend Bitcoin patah di sekitar US$ 107.400. Sejak titik itu, Bitcoin sudah turun sekitar 32 persen, dan jika mengikuti ‘playbook’ siklus sebelumnya, maka pasar bisa saja baru separuh jalan dari fase turun. Tetapi ini tetap berkarakter hipotetis,” kata Rawl.

Baca Juga: Investor ‘The Big Short’ Klaim Kejatuhan Bitcoin Bakal Merambat ke Logam Mulia

Kunci kedua dalam kerangka Rawl adalah likuiditas. Ia menjelaskan likuiditas paling sederhana berada di atas puncak (highs) alias di bawah lembah (lows), tempat stop-loss menumpuk, supply/permintaan bertemu, dan posisi long maupun short sama-sama tersapu sebelum pasar memilih arah.

“Di titik-titik itulah terjadi reset. Pasar mengambil likuiditas, lampau struktur bisa berubah lagi,” paparnya.

Dari kacamata ini, Rawl memandang area low tertentu nan sudah tersentuh kembali sebagai titik likuiditas nan berpotensi memicu reset tren. Ini mirip dinamika nan pernah terjadi sebelumnya. Supaya reset itu betul-betul terjadi, trader tersebut memperkirakan pasar memerlukan fase volatilitas tinggi nan kemudian ‘mengompres’ nilai ke dalam range nan rapat, sebelum akhirnya struktur beranjak lagi.

Dalam skenario bullish-nya, Rawl menyebut sasaran minimum dari reset tren biasanya kembali menguji area awal tempat tren patah, nan dia tempatkan di kisaran US$ 116.000 – US$ 125.000 sebagai sasaran pertama jika terjadi pergeseran kembali ke uptrend.

“Ada juga kemungkinan deviasi melampaui puncak sebelumnya, nan bisa mendorong nilai ke area US$ 130.000 – US$ 150.000. Namun saya tetap skeptis untuk sasaran nan lebih jauh dari itu,” tulisnya.

Kendati demikian, Rawl juga tidak menutup skenario sebaliknya, di mana tren turun bisa bersambung dengan rangkaian lower high dan lower low, sampai akhirnya tren kembali bergeser pada waktunya.

“Yang krusial pelajaran paling dasarnya adalah memantau tren. Sesimpel itu, tanpa indikator, tanpa pattern, hanya struktur dan level likuiditas,” pungkas Rawl.

Something most people don’t understand: by the time the market is clearly defined as a bull or bear market, it’s already too late.

Here is the lesson of the day. Since many people have been asking me lately how to determine a trend or how a trend shifts, this “lesson” is… pic.twitter.com/eTEvpWSQzX

— Rawl (@EtherRawl) February 4, 2026

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya