Nvidia Bela Dlss 5 Di Tengah Kritik Gamer, Siapa Yang Sebenarnya Benar?

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Baru baru ini cukup ramai diperbincangkan mengenai DLSS 5, sebuah teknologi upscaling berbasis AI terbaru dari NVidia. Nah disaat teknologi ini bisa meningkatkan kualitas gambar menjadi lebih baik, namun teknologi ini justru menuai kritik tajam dari organisasi gamer sejak pertama kali diperkenalkan.

Apa itu DLSS 5?

Jadi DLSS (Deep Learning Super Sampling) dikenal sebagai solusi untuk meningkatkan performa game tanpa mengorbankan kualitas visual secara signifikan, dengan teknologi ini, bakal memungkinkan game dirender pada resolusi lebih rendah, lampau ditingkatkan menggunakan AI agar terlihat tajam.

Nah pada DLSS 5, NVIDIA membawa konsep ini lebih jauh melalui pendekatan nan mereka sebut sebagai neural rendering dengan tidak lagi sekadar upscaling alias post-processing, DLSS 5 disebut bisa menggabungkan kontrol geometri, tekstur, dan komponen visual lain langsung dengan AI generatif.

Hasilnya tentu kualitas bisa jauh meningkat, apalagi karakter game bisa semakin mirip dengan manusia sungguhan.

Kritik Mulai Muncul

Namun, meskipun terdengar canggih, banyak gamer justru merasa bahwa hasil DLSS 5 terlihat aneh. Beberapa menyebut tampilannya mirip “AI filter” nan berlebihan, apalagi masuk ke pengaruh uncanny valley.

Mulai dari perincian nan terlihat tidak natural alias terlalu halus, objek tampak seperti dibuat ulang oleh AI dan bukan hasil render asli, artefak visual pada aktivitas cept dan pengalaman visual terasa kurang autentik dibandingkan render native. Reaksi ini apalagi cukup masif diberbagai platform termasuk forum gaming dan Youtube. Bahkan DLSS 5 sudah jadi meme dan istilah “DLSS 5 On” dipakai untuk menyindir visual terlalu bersih, terlalu dipoles dan malah kehilangan karakter asli.

Bahkan DLSS 5 ini dianggap merusak visi artistik game lantaran pencahayaan dan perincian terlihat terlalu “diratakan”.

Nah menariknya, alih alih meredam kritik, CEO NVIDIA, Jensen Huang, justru memberikan respons tegas. Ia menyebut para pengkritik tersebut “sepenuhnya salah”.

Respon Menarik Nvidia

Jensen Huang menegaskan bahwa gamer salah memahami langkah kerja DLSS 5, dimana menurutnya “semua itu berada dalam kontrol langsung developer game”, dimana dia juga menekankan bahwa DLSS 5 berbeda dari AI generatif biasa.

Teknologi ini bukan sekadar filter tambahan, melainkan sistem nan memberi kontrol penuh kepada developer dalam mengatur gimana AI digunakan dalam rendering, dengan kata lain, jika hasil visual terlihat buruk, itu bukan lantaran teknologinya, melainkan gimana developer mengimplementasikannya.

Tapi disisi lain, respon dari gamer juga tidak bisa dianggap sebelah mata lantaran pengalaman visual adalah perihal nan sangat subjektif dan jika banyak gamer merasa bahwa ada nan tidak beres itu tentu telah menjadi sinyal penting.

Nah disini jelas semuanya punya sisi masing masing, gamer mungkin terlalu keras menilai dan berekspektasi terlalu tinggi, alias NVIDIA nan terlalu percaya diri dengan teknologinya, jadi mana nan benar?

Kemungkinan besar, jawabannya ada di tengah, lantaran DLSS 5 punya potensi besar, tetapi implementasinya di bumi nyata mungkin bakal sangat menentukan apakah teknologi ini jadi revolusi alias justru bakal menjadi kontroversi berkepanjangan.

Namun nan pasti mari kita lihat apakah nantinya teknologi ini betul-betul bisa membuktikan potensinya di penggunaan nyata.

Untuk saat ini, masa depan DLSS 5 ini tetap ditentukan oleh developer nan artinya kualitas akhir nan dirasakan gamer bakal sangat berjuntai pada gimana teknologi ini diimplementasikan di masing-masing game. Dan jika developer bisa memanfaatkan neural rendering dengan baik, bukan tidak mungkin DLSS 5 justru menjadi standar baru dalam industri game.

Namun sebaliknya, penerapan nan kurang optimal bisa membikin teknologi ini terus dipandang negatif.


Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya berjuntai pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berbobot secara cuma-cuma — jadi jika Anda menikmati tulisan dan pedoman di situs ini, minta whitelist laman ini di AdBlock Anda sebagai corak support agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui support di Saweria. Terima kasih.

Written by

Gylang Satria

Tech writer nan sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux Ubuntu, dan Samsung S24. Punya pertanyaan alias butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]

Post navigation

Previous Post

Selengkapnya