Telset.id – CEO OpenAI, Sam Altman, akhirnya buka bunyi di media sosial menanggapi gelombang kekhawatiran mengenai keamanan Large Language Models (LLM). Dalam serangkaian pernyataan panjang, Altman membahas kejadian nan sekarang disebut oleh para psikiater sebagai “Psikosis AI”, meskipun dia secara hati-hati menghindari penggunaan istilah spesifik tersebut secara langsung.
Reaksi Altman ini dipicu oleh peringatan keras dari rival lamanya, Elon Musk. Musk sebelumnya merespons sebuah laporan nan menyatakan bahwa chatbot milik Altman sekarang dikaitkan dengan setidaknya sembilan kasus kematian. Melalui platform X (sebelumnya Twitter), Musk mencuitkan peringatan tegas: “Jangan biarkan orang nan Anda cintai menggunakan ChatGPT.”
Menanggapi perihal tersebut, Altman membalas dengan rasa frustrasi nan cukup gamblang. Ia menyoroti standar dobel nan sering dihadapi perusahaannya mengenai kebijakan moderasi konten. Menurutnya, publik sering kali berada di dua sisi nan berlawanan dalam mengkritik produk OpenAI.
“Terkadang Anda mengeluh bahwa ChatGPT terlalu ketat, dan kemudian dalam kasus seperti ini Anda menyatakan itu terlalu santai,” tulis Altman. Ia menambahkan bahwa dengan pedoman pengguna nan mencapai nyaris satu miliar orang, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian dari mereka mungkin berada dalam kondisi mental nan sangat rapuh. Situasi ini menunjukkan adanya kerentanan LLM nan kompleks ketika berinteraksi dengan ilmu jiwa manusia.
Altman berjanji bahwa OpenAI bakal melakukan nan terbaik untuk menyeimbangkan keamanan bot dengan kegunaannya. Namun, dia juga menyindir bahwa kritik Musk terkesan oportunis. Altman menegaskan bahwa situasi tragis seperti ini kudu diperlakukan dengan rasa hormat, bukan dijadikan perangkat serangan bisnis. “Ini betul-betul sulit,” tegas Altman. “Kami perlu melindungi pengguna nan rentan, sembari juga memastikan pagar pembatas kami tetap memungkinkan semua pengguna kami mendapat faedah dari perangkat kami.”
Serangan Balik ke Kubu Elon Musk
Kekesalan Altman terhadap Musk dapat dimengerti, mengingat posisi Musk nan dinilai munafik. Musk, nan memproklamirkan diri sebagai pendukung kebebasan berbincang absolut dan kerap menyerang ideologi “woke”, menjadikan chatbot miliknya, Grok, sebagai pengganti nan tidak disensor. Grok dijual dengan janji “tanpa filter” dan jarang menolak permintaan pengguna, apalagi nan paling kontroversial sekalipun.
Pendekatan Musk ini telah melahirkan beragam kontroversi. Grok pernah melakukan serangkaian postingan nan memuji Nazi dan menyebut dirinya sebagai “MechaHitler”. Baru-baru ini, bot tersebut apalagi menghasilkan gambar tak senonoh non-konsensual nan melibatkan wanita dan anak-anak. Meski demikian, belum ada tindakan berfaedah untuk mengekang perilaku Grok, nan memicu pertanyaan besar mengenai standar keamanan AI di industri ini.
Mencoba memberikan pukulan telak, Altman juga menyinggung rekam jejak keselamatan teknologi lain milik Musk. Ia menunjukkan banyaknya kematian nan dikaitkan dengan teknologi self-driving Tesla, nan disebutnya “jauh dari aman”. Altman menambahkan, “Saya apalagi tidak bakal mulai membahas beberapa keputusan Grok,” menyiratkan bahwa masalah di kubu Musk jauh lebih parah.
Bahaya Nyata Fenomena Psikosis AI
Meskipun Altman sibuk menangkis serangan Musk, kritik juga mengarah padanya lantaran dianggap tidak cukup serius menangani kejadian “Psikosis AI”. Dalam kondisi ini, pengguna menjadi terbuai oleh respons penjilat (sycophantic) dari chatbot AI. Hal ini dapat mengirim pengguna ke dalam spiral kesehatan mental nan delusif dan berbahaya, nan terkadang berujung pada bunuh diri alias pembunuhan.
Fakta di lapangan cukup mengkhawatirkan. ChatGPT sendiri telah dikaitkan dengan setidaknya delapan kematian dalam tuntutan norma nan diajukan terhadap OpenAI. Lebih mengejutkan lagi, kreator chatbot tersebut mengakui bahwa sekitar 500.000 penggunanya melakukan percakapan nan menunjukkan tanda-tanda psikosis setiap minggunya. Angka ini menjadi parameter nyata adanya ancaman software berbasis AI terhadap psikologis manusia.
Sikap Altman nan seolah menganggap angka-angka suram ini sebagai akibat tak terelakkan dari ketenaran produk, menuai kritik tajam. Bahkan info internal nan mengkhawatirkan tersebut belum mendorong langkah drastis dari OpenAI untuk menarik alias membatasi produk mereka secara signifikan.
Sebaliknya, perusahaan justru terlihat bimbang dalam komitmen keselamatannya. OpenAI sempat menjanjikan “mode dewasa” nan ramah konten vulgar setelah bertahun-tahun menolak output erotis. Selain itu, mereka memulihkan akses ke model GPT-4o nan terkenal penjilat setelah fans mengeluh bahwa GPT-5 terlalu dingin dan seperti “dilobotomi”. Ironisnya, langkah selanjutnya justru membikin GPT-5 menjadi lebih penjilat lagi, demi memuaskan preferensi pengguna di atas keamanan mental.