Telset.id – Jika Anda mengira Tecno hanya konsentrasi pada smartphone, pikirkan lagi. Di IFA 2025, perusahaan asal China ini justru meluncurkan MegaPad Pro—sebuah tablet AI nan dirancang unik untuk produktivitas—dan memperluas jejeran laptopnya ke pasar Eropa. Langkah ini bukan sekadar ekspansi, melainkan sinyal kuat bahwa Tecno mau bersaing di arena nan lebih luas.
Bagaimana tidak? Persaingan di segmen tablet dan laptop Eropa sudah sangat ketat, dengan pemain mapan seperti Samsung, Apple, dan Lenovo menguasai pasar. Tapi Tecno punya strategi jitu: menghadirkan perangkat dengan fitur AI nan terintegrasi, nilai kompetitif, dan waktu peluncuran nan tepat—tepat sebelum musim kembali ke sekolah. Apakah ini bakal menjadi game changer?
Mari kita kupas lebih dalam. MegaPad Pro tidak datang sebagai tablet biasa. Dengan layar 12 inci beresolusi 2K, kecerahan 450 nits, dan refresh rate 90Hz, perangkat ini jelas menargetkan pengguna nan menginginkan keseimbangan antara kerja dan hibur. Empat speaker nan telah disetel Dolby menambah pengalaman multimedia, sementara baterai 10.000mAh menjanjikan daya tahan hingga delapan jam untuk penggunaan intensif. Tapi nan paling menarik adalah konsentrasi pada AI.
Sebuah tombol AI unik disematkan untuk mengakses Ella Assistant—asisten virtual nan diklaim bisa membantu pelajar mengelola tugas dan catatan, alias ahli dalam menyusun email dan presentasi. Ini bukan sekadar fitur tambahan, melainkan inti dari positioning produk. Tecno seolah berkata: “Kami tidak hanya menjual hardware, tapi solusi produktivitas.”

Di sisi laptop, Tecno semakin serius. Melalui kemitraan dengan pemasok MCR, mereka resmi masuk ke Spanyol dan Prancis. Model seperti MegaBook K15S, K16S, dan Mega Mini G1 gaming PC sudah bisa dibeli di retailer ternama seperti MediaMarkt dan Carrefour. Tapi nan patut diperhatikan adalah MegaBook S14—laptop OLED 14 inci dengan berat hanya 899 gram nan rencananya diluncurkan di pasar terpilih pada kuartal empat 2025.
Laptop super ringan ini jelas mau menyaingi ultrabook premium dari merek lain. Dengan spesifikasi nan belum sepenuhnya diungkap, Tecno mungkin menyimpan kejutan—mungkin chipset nan dioptimalkan untuk AI, alias layar dengan color accuracy tinggi untuk pembuat konten. Apapun itu, langkah ini menunjukkan ambisi Tecno untuk tidak hanya menjadi pemain mini di pasar PC Eropa.
Lalu, gimana prospek Tecno di pasar nan sudah jenuh ini? Menurut analisis, strategi mereka cukup cerdas. Dengan menargetkan segmen pelajar dan ahli muda—yang biasanya sensitif nilai tapi menginginkan fitur terkini—Tecno berkesempatan merebut pangsa pasar nan selama ini didominasi oleh merek dengan nilai lebih tinggi. Apalagi, fitur AI menjadi nilai jual nan semakin relevan di era digital.
Tapi tantangannya tidak kecil. Persepsi merek tetap menjadi kendala. Tecno dikenal sebagai produsen smartphone entry-level hingga mid-range, dan sekarang kudu meyakinkan konsumen bahwa produk premium mereka layak diperhitungkan. Selain itu, support after-sales dan pengedaran nan solid di Eropa bakal menjadi penentu kesuksesan.
Sebagai perbandingan, merek seperti Samsung dan itel juga telah meluncurkan tablet dengan positioning serupa. Bahkan, Lenovo dikabarkan sedang menyiapkan perangkat gaming nan bisa menjadi pesaing tidak langsung. Artinya, Tecno kudu bekerja ekstra keras untuk menonjol.
Jadi, apakah Tecno bakal berhasil? Jawabannya tergantung pada eksekusi. Jika mereka bisa menghadirkan pengalaman pengguna nan mulus, support software nan updates, dan nilai nan kompetitif, bukan tidak mungkin MegaPad Pro dan jejeran laptopnya bakal diterima dengan baik. IFA 2025 mungkin hanya panggung awal, tapi pagelaran sesungguhnya baru bakal dimulai di toko-toko dan tangan konsumen.
Bagaimana pendapat Anda? Apakah tablet dan laptop dengan fitur AI menjadi kebutuhan masa depan, alias sekadar tren sesaat? Ceritakan pengalaman Anda dengan perangkat sejenis di kolom komentar!