– Sejumlah analis teknikal mulai memperingatkan bahwa Bitcoin (BTC) mungkin telah memasuki fase bear market nan panjang, meskipun sebagian besar pelaku pasar berambisi reli besar berikutnya segera tiba. Salah satu pandangan paling pesimistis datang dari salah satu trader berilmu di media sosial X dengan nama akun “King of Charts”, nan menyebut bahwa struktur nilai Bitcoin telah mengonfirmasi tren turun jangka panjang.
Dalam perihal ini, King menyampaikan bahwa Bitcoin tidak bakal mencetak rekor nilai baru dalam waktu dekat dan berpotensi tetap berada dalam bear market hingga akhir 2026, alias apalagi bersambung ke paruh pertama 2027.

“Banyak trader ritel tetap terjebak dalam bias bullish, meskipun sinyal teknikal menunjukkan sebaliknya,” ungkap King.
Dalam perihal ini, King menyatakan bahwa dia telah mengidentifikasi puncak pasar Bitcoin pada awal Oktober 2025, sebelum nilai terkoreksi tajam sekitar 36 persen. Setelah penurunan tersebut, Bitcoin sempat memantul dair area 100-week moving average, namun pantulan ini dinilai belum cukup untuk mengubah struktur tren nan lebih besar.
“Penurunan berikutnya tetap terbuka lebar. Bitcoin perkiraan bakal kembali menembus area US$ 80.000 dan bergerak lebih dalam menuju 200-week moving average, sekaligus mendekati garis tren naik jangka panjang,” ujarnya.
Ia menyebut koreksi awal sebesar 40 persen hingga 50 persen dari puncak sebagai fase pembuka bear market, nan bermaksud ‘menarik’ nilai kembali ke area keseimbangan historis.
Meski demikian, King tidak menutup kemungkinan adanya reli besar di tengah tren turun. Ia memperkirakan Bitcoin dapat menemukan dasar sementara pada kuartal pertama 2026, sebelum mengalami bear market reli nan membawa nilai kembali mendekati 50-week moving average. Reli tersebut, menuruntya, kemungkinan bakal dipicu oleh tekanan di pasar saham global.
Baca Juga: ETF dan Opsi Beri Harapan Pemulihan Bitcoin di Kuartal I 2026
Ia membandingkan situasi saat ini dengan periode 2021–2022, ketika Bitcoin melemah lebih dulu sebelum pasar saham Amerika Serikat, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, mengalami koreksi tajam. Dalam skenario serupa, King menilai bahwa penurunan pasar saham dapat memaksa bank sentral Amerika Serikat untuk melakukan pemangkasan suku kembang agresif, nan pada gilirannya memicu reli sementara pada aset berisiko, termasuk Bitcoin.
“Namun reli tersebut bukan akhir dari penurunan. Setelah bear market reli selesai, Bitcoin bakal kembali melemah dan menembus level support utama. Ini termasuk garis tren jangka panjang dan 200-week moving average sebelum akhirnya membentuk dasar siklus berikutnya,” kata King.
Dia juga menepis pandangan bahwa reli mini saat ini menandai awal kebangkitan baru. Menurutnya, pergerakan tersebut lebih menyerupai relief rally berskala kecil, seperti nan terjadi di fase awal bear market, sebelum nilai melanjutkan penurunan nan lebih dalam.
Ia menambahkan, sinyal teknikal pada diagram mingguan mendukung pandangan tersebut. Ia menyoroti keberhasilan indikatornya dalam menandai puncak nilai di area resisten tren, nan kemudian diikuti oleh tekanan jual berkelanjutan.
“Dalam penutupan mingguan berturut-turut di bawah 50-week moving average, sudah cukup untuk mengonfirmasi dimulainya bear market baru,” pungkas King.
.
Bitcoin's Operation: Moonboy Meltdown
The Moonboys thought they were the smart money; turns out they were the dumb money.
The BTC Bear Market, No New ATHs & Next Leg Down
Bitcoin is not going to make new highs. BTC is in a confirmed bear market, yet most traders in the… pic.twitter.com/M5CTPfIo4a
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
4 hari yang lalu