Bayangkan Anda adalah seorang arsitek nan telah menghabiskan bertahun-tahun merancang sebuah gedung pencakar langit nan megah. Fondasi telah ditanam, kerangka baja mulai menjulang, dan visi keindahannya mulai terlihat nyata. Tiba-tiba, tanpa penjelasan nan memuaskan, pemilik proyek memerintahkan untuk menghentikan semuanya dan membongkar apa nan sudah dibangun. Itulah kira-kira emosi pahit nan mungkin sedang melanda puluhan, apalagi ratusan, developer di kembali layar Ubisoft hari ini. Perusahaan raksasa game asal Prancis itu secara resmi membatalkan tidak kurang dari enam titel game nan sedang dalam pengembangan, sebuah keputusan drastis nan menyentak industri dan meninggalkan tanda tanya besar tentang masa depan beberapa waralaba ikonik mereka.
Langkah ini bukanlah nan pertama bagi Ubisoft dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan nan dulu dikenal dengan produktivitas dan ambisinya itu belakangan lebih sering muncul di buletin lantaran penundaan, PHK massal, dan pembatalan proyek. Namun, skala pembatalan kali ini—enam titel sekaligus—menunjukkan sebuah pergeseran strategi nan lebih dalam dan mungkin lebih menyakitkan. Ini bukan sekadar pemangkasan anggaran biasa; ini adalah operasi besar-besaran nan mengorbankan proyek-proyek nan telah menelan waktu, kreativitas, dan tentu saja, duit nan tidak sedikit. Di tengah gejolak internal dan tekanan eksternal, Ubisoft tampaknya sedang memilih jalan memperkuat dengan langkah nan paling radikal: dengan memusnahkan apa nan dianggap tidak esensial.
Lalu, game-game apa saja nan menjadi korban dalam “pembersihan besar” kali ini? Dua nama nan paling menyita perhatian adalah Prince of Persia: The Sands of Time Remake dan sebuah game mobile baru dari seri Assassin’s Creed. Dua waralaba legendaris ini, nan semestinya menjadi andalan, justru ikut tersapu dalam gelombang pembatalan ini. Keputusan ini bukan hanya soal nomor di laporan keuangan, tetapi juga menyentuh sentimen para fans setia nan telah menanti-nanti kembalinya pangeran Persia nan lincah dan petualangan siluman para assassin di genggaman tangan mereka.
Daftar Korban: Dari Prince of Persia Hingga Game Mobile Assassin’s Creed
Pembatalan enam titel ini seperti sebuah ledakan nan mengguncang peta roadmap Ubisoft. nan paling disayangkan banyak pihak adalah nasib Prince of Persia: The Sands of Time Remake. Proyek remake dari game kult klasik tahun 2003 ini telah melalui jalan nan panjang dan berliku. Diumumkan pertama kali pada tahun 2020, pengembangannya penuh dengan hambatan, termasuk perpindahan studio developer dari Ubisoft Pune dan Mumbai ke Ubisoft Montreal. Penantian panjang fans nan berambisi memandang skematis modern untuk petualangan sang Pangeran, akhirnya berujung pada kekecewaan. Pembatalan ini semakin menguatkan kesan bahwa waralaba Prince of Persia semakin tak pasti masa depannya, setelah sekian lama hidup dalam bayang-bayang kerabat kandungnya, Assassin’s Creed.

Korban besar berikutnya adalah sebuah game mobile baru dari seri Assassin’s Creed. Ubisoft sebelumnya telah menunjukkan minat besar untuk mengembangkan ekosistem mobile, terutama dengan kesuksesan game seperti Rainbow Six Mobile dan The Division Resurgence. Pembatalan game Assassin’s Creed untuk platform ini merupakan sinyal menarik. Apakah pasar mobile dinilai sudah terlalu padat? Ataukah kualitas proyek nan tidak memenuhi standar? nan jelas, ini merupakan pukulan bagi strategi ekspansi multiplatform mereka. Empat titel lainnya nan ikut dibatalkan, meski tidak disebutkan secara rinci namanya, diduga adalah proyek-proyek nan lebih mini alias dalam tahap konsep awal. Namun, tetap saja, hilangnya enam potensi produk sekaligus adalah sebuah kerugian portofolio nan signifikan.
Analisis di Balik Keputusan Drastis Ubisoft
Mengapa Ubisoft sampai kudu mengambil langkah ekstrem seperti ini? Jawabannya kompleks dan berlapis. Pertama, dan nan paling jelas, adalah tekanan finansial. Industri game sedang mengalami masa koreksi setelah lonjakan pesat selama pandemi. Biaya pengembangan game AAA modern nan membengkak, ditambah dengan siklus pengembangan nan semakin panjang, membikin akibat kegagalan menjadi sangat mahal. Membatalkan proyek nan dianggap tidak mempunyai prospek komersial nan jelas alias mempunyai masalah pengembangan nan parah, dalam logika bisnis, bisa jadi lebih “murah” daripada memaksakan peluncuran nan berpotensi kandas dan merusak reputasi.
Kedua, ada aspek konsentrasi strategis. Dengan membatalkan enam judul, Ubisoft kemungkinan besar mau memusatkan sumber dayanya—baik manusia, waktu, maupun dana—pada proyek-proyek nan dianggap paling pasti dan paling menguntungkan. Ini bisa berfaedah game-game sekuel besar seperti Assassin’s Creed Codename Red (yang berlatar di Jepang) alias Star Wars Outlaws. Dalam kondisi nan tidak menentu, perusahaan condong bermain kondusif dengan mengandalkan waralaba nan sudah mempunyai pedoman fans solid dan track record penjualan nan baik. Proyek-proyek nan lebih eksperimental alias berada di platform nan kurang dominan (seperti mobile) menjadi lebih rentak untuk dikorbankan.

Ketiga, gejolak internal perusahaan tidak bisa diabaikan. Beberapa tahun terakhir, Ubisoft diguncang beragam kontroversi, mulai dari tuduhan pelecehan seksual hingga protes karyawan terhadap kondisi kerja. Pergantian jejeran dewan dan restrukturisasi besar-besaran pasti menciptakan ketidakstabilan. Dalam atmosfer seperti itu, proyek-proyek nan tidak mempunyai “pelindung” kuat di internal alias nan visinya tidak sejalan dengan kepemimpinan baru, sangat mudah untuk dipotong. Keputusan ini mungkin juga bagian dari upaya pemimpin baru untuk menancapkan tonggak dan menunjukkan kontrol penuh atas arah perusahaan, meski dengan langkah nan terasa pahit bagi banyak tim.
Dampak ke Industri dan Masa Depan Ubisoft
Gelombang pembatalan dari Ubisoft ini bukanlah kejadian nan terisolasi. Beberapa publisher besar lain juga telah melakukan langkah serupa dalam beberapa bulan terakhir, menandai era baru kehati-hatian dalam industri game. Ini adalah tamparan keras bagi narasi “pertumbuhan tanpa batas” nan sempat digaungkan. Para pengembang, terutama di studio-studio mini nan dikontrak untuk proyek-proyek tersebut, bakal merasakan akibat langsung, mulai dari ketidakpastian kerja hingga pemutusan hubungan kerja. Budaya “crunch” alias kerja lembur berlebihan nan sudah menjadi masalah kronis di industri, bisa jadi semakin parah ketika tim-tim nan tersisa kudu menanggung beban untuk menyelamatkan proyek-proyek nan tetap bertahan.

Lalu, ke mana arah Ubisoft setelah ini? Strategi mereka ke depan kemungkinan bakal berpusat pada beberapa pilar utama: melanjutkan waralaba Assassin’s Creed dengan beragam jenis (seperti game premium AAA dan pengalaman live-service), mengembangkan IP besar lain seperti Far Cry dan Rainbow Six, serta berinvestasi dalam proyek-proyek blockbuster nan sudah diumumkan seperti game Star Wars. Pendekatan “quantity over quality” nan dulu mereka anut tampaknya telah ditinggalkan. Pertanyaannya, apakah konsentrasi pada sedikit titel ini bakal menghasilkan game-game dengan kualitas dan penemuan nan lebih tinggi? Atau justru membikin portofolio mereka terasa monoton?
Bagi para penggemar, berita ini tentu mengecewakan. Impian untuk bermain Prince of Persia: The Sands of Time dengan wajah baru pupus sudah. Harapan untuk mempunyai pengalaman Assassin’s Creed nan optimal di ponsel juga ikut tertunda. Namun, dalam jangka panjang, keputusan susah ini mungkin diperlukan untuk memastikan Ubisoft tetap memperkuat dan bisa kembali menghasilkan karya-karya terbaiknya. Seperti halnya pangeran Persia nan memutar kembali waktu untuk memperbaiki kesalahan, Ubisoft mungkin sedang berupaya “mengulur waktu” dengan membatalkan proyek-proyek nan berisiko, agar bisa konsentrasi pada langkah berikutnya nan lebih pasti. Hanya waktu nan bakal membuktikan apakah strategi memperkuat hidup nan terasa sadis ini bakal membawa mereka kembali ke puncak, alias justru menjadi awal dari kemunduran nan lebih dalam. Satu perihal nan pasti: lanskap Ubisoft pasca-pembatalan ini bakal terlihat sangat berbeda, dan jalan menuju pemulihan kepercayaan dari fans bakal sangat panjang.