Telset.id – Di tengah lautan smartphone “lempengan kaca” nan mendominasi pasar dunia saat ini, sebuah anomali muncul di arena CES 2026 nan seketika memantik rasa nostalgia sekaligus rasa penasaran. Jika Anda berpikir era keyboard bentuk sudah terkubur berbareng kejayaan BlackBerry, Clicks datang untuk membuktikan bahwa dugaan tersebut salah besar. Perusahaan nan dikenal dengan aksesori casing keyboard-nya ini tidak hanya membawa penyempurnaan pada produk lama, tetapi juga memperkenalkan sebuah perangkat nan berani melawan arus utama kreasi ponsel modern.
Dua tahun lalu, Clicks mencuri perhatian dengan casing keyboard nan memberikan sensasi mengetik taktil pada iPhone. Kini, di Las Vegas, mereka melangkah lebih jauh dengan dua pengumuman besar: Power Keyboard, sebuah aksesori magnetik nan juga berfaedah sebagai power bank, dan bintang utamanya, Clicks Communicator—sebuah ponsel mungil dengan keyboard bentuk terintegrasi. Jeff Gadway, salah satu pendiri Clicks sekaligus mantan kepala pemasaran BlackBerry, menegaskan bahwa produk-produk ini mempunyai tempat spesial di hati pengguna nan merindukan efisiensi ketikan fisik.
Meskipun prototipe Clicks Communicator nan berfaedah penuh belum tersedia untuk dicoba oleh awak media, konsep nan ditawarkan sungguh menggelitik. Ini bukan sekadar upaya menghidupkan kembali masa lalu, melainkan sebuah tawaran solusi bagi mereka nan merasa capek dengan gangguan digital pada smartphone konvensional. Di tengah riuh rendah pameran nan memamerkan Produk Terbaik tahun ini, Clicks menawarkan “ketenangan” dalam corak tombol-tombol fisik.
Produk pertama nan bisa langsung dirasakan sensasinya adalah Power Keyboard seharga USD 79 (sekitar Rp 1,2 juta). Secara desain, perangkat ini merupakan peningkatan signifikan dari model orisinalnya. Ia menempel secara magnetis pada ponsel apa pun nan mendukung Qi2 dan terhubung via Bluetooth. nan membuatnya menarik adalah sistem geser (sliding) ala ponsel legendaris Palm Pre alias BlackBerry Torch. Saat tertutup, dia tampak seperti power bank nirkabel nan tebal di belakang ponsel Anda. Namun, geser ke atas, dan deretan tombol bentuk pun muncul dengan sistem nan memuaskan.
Nostalgia dalam Mekanisme Modern
Keunggulan Power Keyboard tidak hanya pada tombolnya nan sekarang mempunyai baris nomor khusus, tetapi juga pada fungsinya sebagai penyalur daya. Baterai di dalamnya memang tidak masif, tidak bakal mengisi penuh smartphone flagship modern, namun cukup untuk kondisi darurat. Uniknya, pengguna bisa mengatur manajemen dayanya. Anda bisa menyetel agar baterai tersebut tidak mengisi ponsel sama sekali dan hanya memberi tenaga pada keyboard, nan membuatnya bisa memperkuat berminggu-minggu tanpa perlu diisi ulang.
Bagi generasi nan tumbuh dengan layar sentuh penuh, mungkin bakal ada kurva pembelajaran tersendiri. Namun, bagi mereka nan pernah merasakan kecepatan mengetik di tombol fisik, ini adalah “rumah”. Sementara pesaing berkompetisi memamerkan Konsep Layar nan bisa melebar alias melipat, Clicks justru membujuk pengguna kembali ke dasar: mengetik dengan kecermatan tanpa memandang layar.
Namun, kejutan sesungguhnya adalah Clicks Communicator. Perangkat ini mempunyai corak nan tidak lazim: pendek, agak kotak, dengan layar sentuh 4 inci di bagian atas dan keyboard bentuk di bawahnya. Gadway menjelaskan bahwa ponsel ini dirancang untuk segmen pasar spesifik: mereka nan memerlukan perangkat kedua untuk pekerjaan, pemilik upaya mini nan mau memisahkan urusan pribadi dan kerja, alias kaum minimalis digital nan mau mengurangi screen time.
Filosofi “Perangkat Pendamping”
Clicks Communicator tidak mencoba menjadi iPhone alias Pixel berikutnya. Filosofinya mirip dengan gimana orang menggunakan cincin pandai alias tablet e-reader; sebuah perangkat nan melengkapi, bukan menggantikan. “Mengapa ponsel kedua Anda kudu sama persis dengan ponsel pertama Anda?” ujar Gadway retoris. Alih-alih menjadi duplikat, Communicator dirancang untuk menjadi lebih baik dalam hal-hal tertentu, terutama komunikasi teks.
Ponsel ini menjalankan sistem operasi Android dengan antarmuka kustom berbasis Niagara Launcher nan minimalis. Tampilannya berupa daftar (list), bukan kisi-kisi aplikasi (grid), nan memaksa pengguna untuk konsentrasi pada prioritas. Keyboard fisiknya juga sensitif terhadap sentuhan, memungkinkan pengguna melakukan scrolling tanpa menyentuh layar, menjaga pandangan tetap konsentrasi pada konten pesan.
Tentu saja, lantaran ini adalah Android, Anda bebas menginstal aplikasi apa pun. Namun, form factor layar 4 inci dan keyboard bentuk secara alami bakal membatasi kemauan Anda untuk menonton video TikTok alias bermain game berat. “Anda bisa saja menonton video di sini, tapi ini bukan perangkat nan bakal Anda cari untuk melakukan itu,” tambah Gadway. Ini adalah pendekatan Bom Inovasi nan berbeda: penemuan melalui pembatasan kreasi nan disengaja demi produktivitas.
Dibanderol dengan nilai pre-order USD 399 (sekitar Rp 6 jutaan), Clicks Communicator masuk ke wilayah nilai ponsel mid-range seperti Pixel seri-a. Sebagai produsen perangkat keras skala kecil, Clicks tidak perlu menjual jutaan unit untuk dianggap sukses. Mereka hanya perlu menemukan ceruk pasar nan tepat—orang-orang nan merindukan bunyi ‘klik’ di setiap huruf nan mereka ketik. Perangkat ini dijadwalkan meluncur pada paruh kedua tahun ini, dan saat itulah kita bakal memandang apakah nostalgia dan minimalisme digital cukup kuat untuk menarik dompet konsumen.