Gila! Elon Musk Mau Pindahkan Data Center Ai Ke Luar Angkasa Mulai 2028

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Telset.id – Jika Anda berpikir ambisi Elon Musk sudah mencapai puncaknya dengan mobil listrik alias roket ke Mars, Anda salah besar. Jumat lalu, ketika SpaceX mengusulkan rencana ke Federal Communications Commission (FCC) untuk membangun jaringan info center nan terdiri dari satu juta satelit, sebagian besar dari kita mungkin mengira ini hanyalah lelucon unik sang miliarder. Namun, hanya berselang satu minggu kemudian, situasi berubah drastis dan menjadi sangat serius.

Langkah paling nyata nan menegaskan kesungguhan ini adalah merger umum antara SpaceX dan xAI nan resmi melangkah pada hari Senin. Penggabungan ini secara resmi menyatukan upaya antariksa dan kepintaran buatan (AI) milik Musk dalam sebuah skema nan jauh lebih masuk logika jika kita melihatnya sebagai sebuah proyek prasarana gabungan. Ini bukan lagi sekadar tentang internet satelit alias chatbot AI, melainkan sebuah visi besar mengenai data center orbital.

Di luar tindakan korporasi tersebut, kita mulai memandang pendapat tentang klaster AI orbital—pada dasarnya jaringan komputer super nan beraksi di ruang hampa—mulai mengerucut menjadi rencana aktual. Pada hari Rabu, FCC menerima pengajuan tersebut dan menetapkan agenda untuk meminta komentar publik. Biasanya, ini hanyalah langkah administratif pro forma. Namun, Ketua FCC, Brendan Carr, mengambil langkah tidak biasa dengan membagikan pengajuan tersebut secara terbuka di platform X. Selama masa jabatannya, Carr dikenal cukup dekat dengan lingkaran politik Trump, sehingga selama Musk tetap berada di sisi baik pemerintahan, proposal ambisius ini kemungkinan besar bakal melenggang mulus tanpa halangan izin nan berarti.

Logika Energi Matahari

Pada saat nan sama, Elon Musk mulai memaparkan argumennya secara terbuka mengenai urgensi memindahkan pusat info ke orbit. Dalam bagian terbaru podcast “Cheeky Pint” milik salah satu pendiri Stripe, Patrick Collison, nan juga menghadirkan tamu Dwarkesh Patel, Musk menjabarkan kasus dasar untuk memindahkan sebagian besar daya komputasi AI kita ke luar angkasa. Argumen utamanya berpusat pada efisiensi daya nan belum pernah terbayangkan sebelumnya di Bumi.

Menurut Musk, panel surya bisa menghasilkan daya jauh lebih besar di luar angkasa lantaran tidak terhalang atmosfer alias siklus malam nan panjang. Hal ini memungkinkan pemangkasan salah satu biaya operasional terbesar bagi info center, ialah listrik. “Lebih susah untuk melakukan penskalaan di darat daripada di luar angkasa,” ujar Musk dalam podcast tersebut. Ia menambahkan bahwa setiap panel surya dapat memberikan daya sekitar lima kali lebih besar di orbit dibandingkan di permukaan Bumi, sehingga secara teori, operasionalnya menjadi jauh lebih murah.

Pernyataan ini tentu menarik perhatian banyak pengamat teknologi dan pesaing. Google, misalnya, juga pernah mempunyai kesukaan pada teknologi serupa melalui proyek Google nan berfokus pada efisiensi energi, meskipun pendekatan Musk kali ini jauh lebih garang dalam skala infrastruktur.

Namun, bagi pendengar nan teliti, ada sedikit celah dalam logika nan disampaikan Musk. Memang betul bahwa panel surya menghasilkan lebih banyak daya di luar angkasa, tetapi listrik bukanlah satu-satunya biaya dalam mengoperasikan pusat data. Dwarkesh Patel mencatat dalam obrolan tersebut bahwa panel surya bukan satu-satunya langkah untuk memberi daya pada info center di Bumi, dan biaya peluncuran serta pemeliharaan di orbit bisa jadi sangat astronomis. Patel menyoroti masalah krusial mengenai perbaikan perangkat keras. Bagaimana jika unit pemrosesan skematis (GPU) nan digunakan untuk training model AI mengalami kerusakan? Di Bumi, teknisi tinggal menggantinya. Di luar angkasa, itu adalah masalah logistik nan rumit.

Dominasi AI di Tahun 2030

Meskipun ada skeptisisme mengenai teknis pelaksanaan, Musk tampak tidak gentar. Ia apalagi menandai tahun 2028 sebagai titik kembali bagi info center orbital. “Anda bisa pegang kata-kata saya, dalam 36 bulan tapi mungkin lebih dekat ke 30 bulan, tempat nan paling menarik secara ekonomi untuk menempatkan AI adalah luar angkasa,” tegas Musk. Prediksi ini menyiratkan percepatan teknologi nan luar biasa dalam tiga tahun ke depan.

Tidak berakhir di situ, Musk melanjutkan dengan prediksi nan lebih berani. Ia memperkirakan bahwa lima tahun dari sekarang, jumlah AI nan diluncurkan dan dioperasikan di luar angkasa setiap tahunnya bakal melampaui total kumulatif nan ada di Bumi. Ini adalah klaim nan sangat besar, mengingat kapabilitas info center dunia pada tahun 2030 diperkirakan bakal mencapai 200 GW. Angka tersebut setara dengan prasarana senilai kurang lebih satu triliun dolar jika dibangun di atas tanah.

Konteks ini menjadi sangat krusial ketika kita memandang posisi SpaceX. Perusahaan ini menghasilkan duit dengan meluncurkan barang ke orbit. Jadi, narasi tentang memindahkan prasarana komputasi ke luar angkasa sangat menguntungkan bagi model upaya Musk. Terlebih lagi, sekarang SpaceX mempunyai perusahaan AI (xAI) nan melekat padanya. Sinergi ini menciptakan ekosistem tertutup di mana Musk mengendalikan sarana transportasi (roket) dan muatan (server AI) sekaligus.

Ambisi ini juga sejalan dengan rencana finansial besar perusahaan. Dengan konglomerasi baru SpaceX-xAI nan sedang menuju penawaran umum perdana (IPO) hanya dalam beberapa bulan lagi, narasi tentang info center orbital ini kemungkinan besar bakal menjadi bahan bakar utama untuk mendongkrak valuasi saham. Investor tentu bakal memandang ini sebagai potensi pertumbuhan eksponensial, mirip dengan argumen di kembali rencana IPO nan agresif.

Tantangan dan Realitas Infrastruktur

Tentu saja, jalan menuju kekuasaan orbital tidak bakal mulus. Selain tantangan teknis seperti radiasi luar angkasa nan dapat merusak komponen elektronik sensitif dan latensi komunikasi, ada juga akibat kegagalan peluncuran nan selalu mengintai. Kita bisa berkaca pada kejadian di mana pesawat antariksa kandas mencapai orbit, nan mengingatkan kita bahwa akses ke luar angkasa tetap penuh risiko.

Namun, dengan perusahaan teknologi nan tetap menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk shopping info center setiap tahunnya, ada kesempatan nyata bahwa tidak semua duit itu bakal tetap berada di Bumi. Jika Musk sukses membuktikan bahwa ambisi Musk ini lebih irit biaya—terutama dari sisi energi—maka peta persaingan prasarana AI dunia bakal berubah total.

Kita dapat mengharapkan untuk mendengar lebih banyak tentang pusat info orbital dalam beberapa bulan ke depan, terutama menjelang IPO campuran SpaceX dan xAI. Apakah ini visi jenius alias sekadar strategi pemasaran untuk meningkatkan nilai saham? Waktu nan bakal menjawab, namun satu perihal nan pasti: pemisah komputasi awan (cloud computing) sedang didorong naik, secara harfiah, menembus awan menuju bintang-bintang.

Selengkapnya