India Rombak Aturan Startup Deep Tech: Strategi “napas Panjang” Demi Saingi Dominasi As Dan China

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Telset.id – Jika Anda berpikir membangun startup deep tech sama mudahnya dengan merancang aplikasi pengiriman makanan, Anda perlu meninjau ulang dugaan tersebut. Realitanya, sektor nan berbasis pada sains mendalam dan rekayasa teknik tingkat tinggi—seperti semikonduktor, bioteknologi, hingga teknologi antariksa—membutuhkan waktu inkubasi nan jauh lebih lama sebelum bisa menghasilkan produk komersial. Menyadari tantangan esensial ini, pemerintah India baru saja mengambil langkah strategis nan cukup radikal untuk mengubah peta permainan teknologi di negaranya, sebuah langkah nan mungkin bakal membikin pesaing dunia mulai waspada.

Pemerintah India secara resmi telah memperbarui kerangka kerja izin startup mereka minggu ini, sebuah revisi kebijakan nan dirancang unik untuk mengakomodasi “napas panjang” nan dibutuhkan oleh perusahaan berbasis teknologi mendalam. Inti dari perubahan ini adalah perpanjangan masa bertindak status startup bagi perusahaan deep tech menjadi 20 tahun, dua kali lipat dari lama sebelumnya. Tak hanya itu, periode pemisah pendapatan untuk mendapatkan faedah pajak, hibah, dan izin unik startup juga dinaikkan secara signifikan menjadi ₹3 miliar (sekitar US$ 33,12 juta), dari nan sebelumnya hanya ₹1 miliar (sekitar US$ 11,04 juta).

Perubahan kebijakan ini bukan sekadar revisi administratif belaka, melainkan sebuah pengakuan negara terhadap siklus pengembangan nan panjang dan berliku nan menjadi karakter unik upaya berbasis sains. Langkah ini diambil di tengah upaya New Delhi untuk membangun ekosistem deep tech bervisi jangka panjang dengan mengawinkan reformasi izin dan modal publik. Salah satu instrumen utamanya adalah Dana Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi (RDI) senilai ₹1 triliun (sekitar US$ 11 miliar) nan diumumkan tahun lalu. Dana ini ditujukan untuk memperluas pembiayaan “sabar” (patient financing) bagi perusahaan nan didorong oleh R&D, sektor nan selama ini sering kali dipandang sebelah mata oleh penanammodal nan menginginkan imbal hasil cepat.

Di kembali layar kebijakan ini, terdapat kerjasama strategis antara modal ventura Amerika Serikat dan India nan membentuk India Deep Tech Alliance. Koalisi penanammodal swasta berbobot lebih dari US$ 1 miliar ini mencakup nama-nama besar seperti Accel, Blume Ventures, Celesta Capital, Premji Invest, Ideaspring Capital, Qualcomm Ventures, dan Kalaari Capital. Menariknya, raksasa kreator chip global, Nvidia, turut ambil bagian sebagai penasihat dalam aliansi ini, menandakan sungguh seriusnya perhatian bumi teknologi dunia terhadap potensi teknologi canggih nan sedang digodok di India.

Menghapus “Sinyal Kegagalan Palsu” bagi Pendiri

Bagi para pendiri startup, revisi patokan ini bak oase di tengah gurun ketidakpastian. Di bawah kerangka kerja sebelumnya, banyak perusahaan deep tech nan terancam kehilangan status startup mereka saat tetap berada dalam fase pra-komersial. Situasi ini menciptakan apa nan disebut oleh para pelaku industri sebagai “sinyal kegagalan palsu” (false failure signal). Vishesh Rajaram, mitra pendiri Speciale Invest, sebuah firma modal ventura deep tech asal India, menyoroti bahwa kebijakan lama condong menilai upaya berbasis sains berasas pemisah waktu kebijakan nan kaku, bukan berasas kemajuan teknologi nan sebenarnya telah dicapai.

Rajaram menjelaskan kepada TechCrunch bahwa dengan secara umum mengakui deep tech sebagai entitas nan berbeda, kebijakan baru ini secara efektif mengurangi gesekan dalam penggalangan dana, pencarian modal lanjutan, dan keterlibatan dengan negara. Hal ini sangat krusial lantaran realitas operasional seorang pendiri startup bioteknologi alias antariksa—yang mungkin menghadapi akibat kegagalan teknis seperti risiko misi peluncuran—sangat berbeda dengan pendiri startup perangkat lunak biasa.

Namun, meskipun izin telah diperlonggar, para penanammodal menekankan bahwa akses terhadap modal tetap menjadi hambatan nan paling mengikat, terutama setelah melewati tahap awal. Rajaram mencatat bahwa kesenjangan terbesar secara historis adalah kedalaman pendanaan pada Seri A dan seterusnya, terutama untuk perusahaan deep tech nan padat modal. Di sinilah biaya RDI pemerintah diharapkan dapat memainkan peran komplementer nan vital untuk mengisi kekosongan tersebut.

Arun Kumar, mitra pengelola di Celesta Capital, menambahkan bahwa faedah nyata dari kerangka kerja RDI adalah untuk meningkatkan pendanaan nan tersedia bagi perusahaan deep tech pada tahap awal dan pertumbuhan. Dengan menyalurkan modal publik melalui biaya ventura nan mempunyai tenor serupa dengan modal swasta, biaya ini dirancang untuk mengatasi kesenjangan kronis dalam pendanaan lanjutan tanpa mengubah kriteria komersial nan mengatur keputusan investasi swasta. Ini adalah upaya pandai untuk menyeimbangkan support negara dengan disiplin pasar.

Realita Angka: Mengejar Ketertinggalan dari AS dan China

Siddarth Pai, mitra pendiri 3one4 Capital dan salah satu ketua urusan izin di Asosiasi Modal Ventura dan Alternatif India, menyebut bahwa kerangka kerja deep tech India sekarang menghindari “jurang kelulusan” (graduation cliff). Fenomena ini sebelumnya sering memotong support bagi perusahaan justru pada saat mereka mulai berskala besar. Perubahan kebijakan ini datang tepat ketika biaya RDI mulai terbentuk secara operasional, dengan golongan manajer biaya pertama telah diidentifikasi dan proses seleksi manajer modal ventura serta ekuitas swasta sedang berlangsung.

Pai menegaskan bahwa biaya RDI dimaksudkan untuk bertindak sebagai nukleus di mana pembentukan modal nan lebih besar dapat terjadi. Berbeda dengan fund-of-funds tradisional, kendaraan investasi ini juga dirancang untuk mengambil posisi langsung serta memberikan angsuran dan hibah kepada startup deep tech. Ini penting, mengingat sektor seperti antariksa nan sukses dengan Misi Aditya-L1 memerlukan support finansial nan masif dan berkelanjutan.

Namun, jika bicara soal skala, India kudu mengakui bahwa mereka tetap merupakan pasar deep tech nan sedang berkembang, bukan dominan. Meskipun startup deep tech India telah mengumpulkan total US$ 8,54 miliar hingga saat ini, info terbaru menunjukkan momentum nan baru pulih. Pada tahun 2025, startup deep tech India sukses mengumpulkan US$ 1,65 miliar, sebuah lonjakan tajam dari US$ 1,1 miliar pada dua tahun sebelumnya, setelah pendanaan memuncak di nomor US$ 2 miliar pada tahun 2022 menurut info Tracxn.

Pemulihan ini menunjukkan kepercayaan penanammodal nan semakin tumbuh, terutama di area nan selaras dengan prioritas nasional seperti manufaktur canggih, pertahanan, teknologi iklim, dan semikonduktor. Neha Singh, salah satu pendiri Tracxn, menyebut bahwa peningkatan pendanaan ini menyiratkan pergerakan berjenjang menuju investasi dengan alam waktu nan lebih panjang. Namun, ketika disandingkan dengan raksasa global, disparitasnya tetap sangat mencolok. Sebagai perbandingan, startup deep tech Amerika Serikat mengumpulkan sekitar US$ 147 miliar pada tahun 2025—lebih dari 80 kali lipat jumlah nan disalurkan di India. Sementara itu, China mencatat nomor sekitar US$ 81 miliar, mempertegas ketatnya kompetisi global di sektor ini.

Sinyal Jangka Panjang dan Isu “Flipping”

Kesenjangan pendanaan nan masif tersebut menyoroti tantangan berat nan dihadapi India dalam membangun teknologi padat modal, meskipun negara tersebut mempunyai kekayaan talenta teknik nan melimpah. Harapannya, langkah-langkah pemerintah ini bakal memicu partisipasi penanammodal nan lebih besar dalam jangka menengah. Bagi penanammodal global, perubahan kerangka kerja New Delhi dibaca sebagai sinyal niat kebijakan jangka panjang, bukan sekadar pemicu pergeseran alokasi biaya secara instan.

Pratik Agarwal, mitra di Accel, menyatakan bahwa perusahaan deep tech beraksi pada alam tujuh hingga dua belas tahun. Oleh lantaran itu, pengakuan izin nan memperpanjang siklus hidup startup memberikan kepercayaan lebih besar kepada penanammodal bahwa lingkungan kebijakan tidak bakal berubah di tengah jalan. Meskipun perubahan ini tidak bakal mengubah model alokasi dalam semalam alias menghilangkan akibat kebijakan sepenuhnya, perihal ini meningkatkan kenyamanan penanammodal bahwa India mulai berpikir tentang deep tech dengan perspektif waktu nan lebih panjang, layaknya AS dan Eropa.

Pertanyaan besar nan tetap tersisa adalah apakah langkah ini bakal mengurangi kecenderungan startup India untuk memindahkan instansi pusat mereka ke luar negeri (flipping) saat mereka mulai membesar. Isu mengenai domisili dan status badan hukum sering kali menjadi polemik tersendiri bagi startup nan mau mengakses pasar modal global. Agarwal beranggapan bahwa perpanjangan landasan pacu ini memperkuat argumen untuk membangun dan tetap berada di India. Terlebih lagi, selama lima tahun terakhir, pasar publik India telah menunjukkan minat nan semakin besar terhadap perusahaan teknologi nan didukung ventura, menjadikan pencatatan saham domestik (IPO) sebagai opsi nan lebih andal daripada sebelumnya.

Pada akhirnya, bagi penanammodal nan mendukung teknologi jangka panjang, ujian utamanya adalah apakah India dapat memberikan hasil nan kompetitif secara global. Sinyal nyata keberhasilan, menurut Arun Kumar dari Celesta Capital, adalah munculnya massa kritis perusahaan deep tech India nan sukses di panggung dunia. “Akan sangat bagus memandang sepuluh perusahaan deep tech nan kompetitif secara dunia dari India mencapai kesuksesan berkepanjangan selama dasawarsa berikutnya,” ujarnya, menetapkan tolok ukur bagi kematangan ekosistem teknologi India di masa depan.

Selengkapnya