Telset.id – OpenAI, perusahaan di kembali kejadian ChatGPT, sekarang tengah menghadapi sorotan tajam mengenai esensial bisnisnya nan dinilai rapuh. George Noble, mantan manajer aset di Fidelity dengan pengalaman puluhan tahun, melontarkan kritik pedas nan menyebut bahwa perusahaan ketua Sam Altman ini mungkin sedang “hancur secara real time” dan membandingkan situasinya dengan skandal finansial terbesar dalam sejarah korporasi.
Tiga tahun setelah peluncuran ChatGPT nan memicu perlombaan kepintaran buatan (AI) global, valuasi perusahaan-perusahaan AI memang melambung tinggi. Puluhan miliar dolar telah digelontorkan untuk prasarana pusat data. Namun, di kembali angka-angka dahsyat tersebut, skeptisisme mulai tumbuh subur di kalangan mahir finansial nan memandang adanya celah menganga antara janji manis masa depan AI dan realitas pendapatan perusahaan.
Noble, nan mengaku telah menyaksikan banyak perusahaan implosi selama beberapa dekade, memandang tanda-tanda peringatan nan sangat jelas pada OpenAI. Kritik ini muncul di tengah laporan finansial nan mengkhawatirkan dan keraguan mengenai keahlian industri AI untuk memenuhi permintaan pasar nan terus meningkat.
Mesin Pembakar Uang
Salah satu poin utama nan disoroti Noble adalah perbedaan mendasar antara OpenAI dan pesaing utamanya seperti Google. Bisnis “warisan” seperti Google mempunyai sumber pendapatan eksisting nan stabil untuk membiayai shopping modal AI mereka nan masif. Sebaliknya, OpenAI telah mengumpulkan rekor duit tunai dari penanammodal dan berjanji menghabiskan lebih dari USD 1 triliun sebelum akhir dasawarsa ini, tanpa untung upaya nan sepadan untuk menopangnya.
Noble menunjuk pada laporan nan menyebut bahwa OpenAI kehilangan duit dalam jumlah nan mencengangkan, ialah sekitar USD 12 miliar per kuartal. Angka ini diperparah dengan biaya operasional untuk menjalankan model AI canggih mereka. Noble secara spesifik menyoroti Biaya Sora, aplikasi generator teks-ke-video milik OpenAI, nan dikabarkan membakar duit hingga USD 15 juta setiap harinya.
Selain pertumbuhan pengguna nan mulai melambat, Noble meragukan janji industri AI untuk meningkatkan operasi guna memenuhi permintaan. Ini adalah upaya nan sangat mahal dan pasti bakal menjadi lebih mahal seiring dengan model AI nan menuntut daya komputasi lebih besar. Upaya perusahaan baru-baru ini untuk menyisipkan iklan ke dalam ChatGPT dinilai sebagai langkah putus asa untuk mengubah realitas finansial tersebut.
Sam Altman dan Bayang-Bayang Enron
Kritik Noble tidak berakhir pada angka-angka neraca keuangan. Dalam sebuah komparasi nan menohok, dia menyamakan perilaku CEO OpenAI, Sam Altman, dengan Jeffrey Skilling, mantan CEO Enron nan terkenal lantaran skandal penipuan sekuritas dan manipulasi akuntansi nan meruntuhkan perusahaan daya raksasa tersebut.
Noble merujuk pada kejadian tahun lampau di mana Altman tampak kehilangan ketenangannya saat tampil di sebuah podcast ketika ditanya mengenai kondisi finansial perusahaan nan memicu tanda tanya. Noble membandingkan reaksi ini dengan momen terkenal Skilling pada konvensi telepon tahun 2001, di mana dia menyebut seorang analis sebagai “bajingan” setelah didesak pertanyaan tentang kenapa Enron tidak merilis neraca keuangannya.
Bagi Noble, profil akibat OpenAI saat ini sudah mencapai tahap “astronomis”. Ia apalagi menyarankan penanammodal untuk menjauh, dengan tegas menyatakan, “JANGAN PERCAYA PADA SCAM ALTMAN,” dan menyebut produk utama perusahaan bagi para penanammodal saat ini hanyalah kerugian.
Hukum Pengembalian nan Semakin Kecil
Masalah lain nan diangkat adalah “masalah matematika” nan enggan didiskusikan oleh banyak pihak di industri ini. Noble memperingatkan tentang diminishing returns alias norma pengembalian nan semakin kecil. Menurutnya, buah nan paling mudah dipetik sudah habis. Setiap peningkatan inkremental pada model AI sekarang memerlukan komputasi, pusat data, dan daya listrik nan tumbuh secara eksponensial.
“Masalah matematikanya adalah: Akan menyantap biaya 5 kali lipat daya dan duit untuk membikin model-model ini 2 kali lebih baik,” ujar Noble. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai keberlanjutan pengembangan Teknologi AGI jika biaya terus membengkak sementara utilitas alias faedah nan dihasilkan tidak meningkat dengan kecepatan nan sama.
Noble memprediksi bahwa siklus hype AI sedang mencapai puncaknya, dan kebenaran mengenai pengembalian investasi nan semakin mini ini bakal menjadi mustahil untuk disembunyikan, terutama ketika para pesaing mulai mengejar ketertinggalan teknologi mereka.
Prediksi Kebangkrutan dalam 18 Bulan
Pandangan pesimis Noble ini sejalan dengan prediksi Sebastian Mallaby, rekan senior di Council on Foreign Relations. Dalam esainya di New York Times, Mallaby memperkirakan bahwa OpenAI bisa kehabisan duit dalam waktu “18 bulan ke depan”. Mallaby mencatat bahwa kegagalan OpenAI bukan berfaedah akhir dari AI itu sendiri, melainkan akhir dari pembangun teknologi nan paling didorong oleh sensasi dan hype.
Tanda-tanda tekanan internal juga terlihat ketika Altman mengumumkan “kode merah” akhir tahun lalu. CEO tersebut mendesak stafnya untuk konsentrasi memperbaiki ChatGPT, apalagi dengan akibat menunda proyek lain, demi mengejar ketertinggalan dari Google. Situasi ini diperburuk dengan beragam Gugatan Hukum nan dihadapi perusahaan mengenai kewenangan cipta, menambah beban pada stabilitas jangka panjang perusahaan.
Peringatan dari para mahir finansial ini memberikan perspektif penyeimbang nan krusial di tengah euforia kepintaran buatan. Jika prediksi Noble dan Mallaby terbukti benar, industri teknologi mungkin bakal menyaksikan ledakan gelembung valuasi nan dampaknya bisa sangat masif bagi ekosistem startup global.