Ironi Digital! Data Pelamar Komdigi Bisa Diakses Di Google Drive, Kok Bisa?

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Telset.id – Bayangkan sebuah lembaga negara nan semestinya menjadi garda terdepan dalam tata kelola ruang digital dan keamanan siber, justru tersandung masalah privasi nan paling mendasar. Ironi inilah nan sedang hangat diperbincangkan publik setelah viralnya berita mengenai data pelamar Komdigi (Kementerian Komunikasi dan Digital) nan diduga bocor dan dapat diakses secara bebas oleh siapa saja melalui jasa penyimpanan awan umum.

Insiden ini bukan sekadar kesalahan teknis biasa, melainkan sebuah tamparan keras bagi kredibilitas prasarana digital pemerintah. Bagaimana tidak? Di saat masyarakat terus didorong untuk menjaga info pribadi, justru kebocoran terjadi di “rumah” pengawas ruang digital itu sendiri. Kehebohan bermulai ketika seorang pengguna media sosial mengungkap sungguh mudahnya arsip sensitif seperti KTP, CV, hingga surat pengalaman kerja milik pelamar lain dilihat tanpa enkripsi alias pembatasan akses nan memadai.

Kondisi ini memicu pertanyaan besar mengenai standar operasional prosedur (SOP) rekrutmen di lingkungan kementerian. Mengapa platform umum seperti Google Drive digunakan tanpa pengaturan izin nan ketat untuk menampung ribuan info sensitif? Publik sekarang menanti langkah konkret pemerintah, bukan sekadar janji pertimbangan nan kerap terdengar setiap kali rumor kebocoran info mencuat ke permukaan.

Lempar Bola Panas ke Inspektorat

Menanggapi kegaduhan nan terjadi, pihak Kementerian Komunikasi dan Digital akhirnya buka suara. Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, mengonfirmasi bahwa rumor tersebut sekarang tengah didalami secara internal. Saat ditemui usai RDP Panja Ruang Digital dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Alexander menyebut bahwa proses investigasi sedang berjalan.

“Ini lagi disampaikan Pak Sekjen, lagi didalamin di internal, dari inspektorat, jadi lagi dilihat di mana,” ujar Alexander. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah belum bisa memastikan di mana letak titik kelalaian utama, apakah murni kesalahan manusia (human error) alias ketiadaan protokol keamanan nan baku.

Ketika didesak mengenai potensi audit menyeluruh terhadap sistem rekrutmen tersebut, Alexander menegaskan bahwa perihal itu menjadi ranah inspektorat untuk membedah akar permasalahannya. Namun, jawaban nan cukup menggelitik muncul saat dia ditanya mengenai notifikasi kepada para pelamar nan datanya terekspos. Alih-alih memberikan agunan perlindungan, dia justru menyarankan agar perihal tersebut ditanyakan kepada pelaksana teknis.

Insiden ini mengingatkan kita pada kasus serupa di mana Data Pelamar Bocor di lembaga besar lainnya, nan menunjukkan sungguh rentannya info pencari kerja di Indonesia. “Itu kan dari pelaksana ya, pelaksananya di mana sih? Ya prasarana digital harusnya tanya ke sana, pelaksananya dia,” tambah Alexander, seolah melemparkan tanggung jawab teknis kepada unit di bawahnya.

Kronologi Data nan ‘Telanjang’

Awal mula terkuaknya kasus ini berasal dari unggahan akun IG Abil Sudarman nan viral di media sosial. Ia menyoroti proses rekrutmen untuk posisi pengadaan jasa lainnya perorangan di lingkungan Komdigi. Tautan pendaftaran nan dibagikan rupanya mengarahkan pelamar langsung ke sebuah berkas di Google Drive. Di sinilah letak fatalnya: berkas tersebut tidak disetel sebagai privat alias drop-only.

Abil mengungkapkan bahwa akses info pelamar betul-betul terbuka lebar. Siapa pun nan mempunyai tautan tersebut tidak hanya bisa mengunggah arsip mereka sendiri, tetapi juga bisa membuka, mengunduh, apalagi mungkin memanipulasi berkas milik pelamar lain. Istilah “telanjang” nan digunakan Abil menggambarkan sungguh tidak adanya perlindungan sama sekali terhadap privasi pelamar.

“Masalahnya adalah semua pelamar datanya terlihat di Google Drive ini. Semua berkas kelihatan. Jadi lu mau ngelamar, lu bisa buka info pribadi milik pelamar lain, terlihat bugil semua bisa dibuka,” tegas Abil dalam videonya. Dokumen nan terekspos pun bukan main-main, mulai dari Kartu Tanda Penduduk (KTP) hingga riwayat hidup komplit nan sangat rentan disalahgunakan untuk kejahatan siber.

Kejadian ini menambah daftar panjang kejadian keamanan siber di Tanah Air, setelah sebelumnya publik juga dihebohkan dengan tindakan peretas nan menyatakan Bocorkan Data MyPertamina dalam jumlah masif. Pola berulang ini menandakan adanya celah serius dalam budaya keamanan info di lembaga pemerintahan.

Pelajaran Mahal Bagi Birokrasi Digital

Kasus kebocoran info pelamar Komdigi ini menjadi cermin retak bagi upaya transformasi digital pemerintah. Penggunaan platform gratisan alias publik seperti Google Drive untuk urusan manajemen negara sebenarnya sah-sah saja, asalkan dikelola dengan pemahaman fitur keamanan nan benar. Kegagalan dalam mengatur izin akses (permission settings) menunjukkan minimnya literasi digital di level pelaksana teknis.

Di era di mana Lowongan Kerja Viral bisa menarik ribuan fans dalam hitungan jam, keamanan info peserta kudu menjadi prioritas mutlak. Jangan sampai niat masyarakat untuk mengabdi pada negara justru berujung pada petaka identitas nan dicuri. Evaluasi nan dijanjikan oleh pihak Komdigi kudu transparan dan menghasilkan perbaikan sistem nan nyata, bukan sekadar formalitas untuk meredam rumor sesaat.

Kepercayaan publik adalah mata duit paling berbobot di era digital. Jika kementerian nan mengurusi digitalisasi saja lalai dalam menjaga data, kepada siapa lagi masyarakat kudu berambisi bakal perlindungan privasi mereka? Kita tunggu langkah tegas inspektorat dalam mengusut tuntas “kecerobohan” nan memalukan ini.

Selengkapnya