Pernahkah Anda merasa capek menanti sebuah game nan sudah diumumkan bertahun-tahun lalu, namun tak kunjung menampakkan batang hidungnya? Fenomena nan sering disebut sebagai vaporware ini tampaknya semakin melekat pada gambaran Ubisoft belakangan ini. Rasa antusias nan dulu meluap-luap sekarang perlahan berubah menjadi skeptisisme, terutama setelah rentetan berita kurang mengenakkan nan terus bermunculan dari raksasa industri game asal Prancis tersebut.
Kabar terbaru nan beredar tentu bukan perihal nan mau didengar oleh para fans setia. Dalam sebuah media briefing nan dihadiri secara virtual oleh VGC, Ubisoft membawa buletin nan cukup mengejutkan mengenai perombakan besar-besaran dalam strategi rilis mereka. Tidak tanggung-tanggung, keputusan ini berakibat langsung pada nasib beberapa titel besar nan sebelumnya digadang-gadang bakal menjadi jagoan perusahaan di masa depan.
Langkah drastis ini diambil sebagai bagian dari restrukturisasi internal nan tengah dilakukan perusahaan. Sayangnya, transisi ini menyantap korban berupa pembatalan proyek dan penundaan agenda rilis nan semakin tidak menentu. Bagi Anda nan sudah lama menantikan kembalinya sang pangeran Persia alias petualangan luar angkasa nan ambisius, tampaknya Anda kudu menelan pil pahit dan bersabar lebih lama lagi—atau apalagi melupakannya sama sekali.
Prince of Persia dan Proyek nan Gugur
Salah satu pukulan terberat bagi organisasi gamer adalah nasib Prince of Persia: The Sands of Time Remake. Berdasarkan laporan dari briefing tersebut, game nan pertama kali diumumkan pada tahun 2020 ini sekarang dinyatakan resmi batal. Padahal, titel ini merupakan upaya remake dari game klasik tahun 2003 nan sangat dicintai. Sejak pengumumannya, proyek ini memang dikabarkan mengalami beragam masalah pengembangan alias development hell, namun pembatalan resmi tetaplah menjadi buletin nan mengejutkan.
Tidak hanya sang pangeran nan menjadi korban. Ubisoft juga mengonfirmasi pembatalan lima game lainnya nan berada dalam daftar rilis mereka. Meskipun Ubisoft tidak merinci nama-nama game tersebut secara spesifik, laporan menyebut bahwa tiga di antaranya adalah kekayaan intelektual (IP) baru nan orisinal, sementara satu lainnya adalah game mobile. Fenomena pembatalan game memang bukan perihal baru, mirip dengan kekecewaan saat batal rilis menimpa platform tertentu pada titel lain, namun skala pembatalan Ubisoft kali ini terbilang masif.
Penundaan Panjang dan Rumor Black Flag
Selain pembatalan, Ubisoft juga mengumumkan penundaan terhadap tujuh game lainnya. Perusahaan enggan menyebut judul-judul spesifik nan mengalami penundaan ini, namun dampaknya cukup signifikan terhadap almanak rilis mereka. Laporan VGC menyoroti bahwa salah satu game nan semestinya rilis pada kuartal pertama tahun ini sekarang digeser jauh, dengan sasaran rilis sebelum April 2027. Rentang waktu nan sangat lama ini tentu menimbulkan pertanyaan besar mengenai manajemen proyek di dalam tubuh perusahaan.
Di tengah angin besar penundaan ini, nama Beyond Good & Evil 2 kembali mencuat. Game nan statusnya semakin terlihat seperti vaporware setiap tahunnya ini, sebelumnya dipastikan tetap dalam pengembangan tahun lalu. Namun, dengan gelombang penundaan baru ini, masa depannya kembali menjadi tanda tanya besar. Di sisi lain, rumor kuat berdesir mengenai adanya remake dari Assassin’s Creed: Black Flag. Meski belum diumumkan secara resmi, banyak spekulasi nan meyakini bahwa titel ini termasuk dalam daftar game nan mengalami pergeseran jadwal.
Restrukturisasi Menjadi “Creative Houses”
Langkah-langkah drastis di atas merupakan bagian dari model organisasi baru nan diterapkan Ubisoft. Perusahaan bakal memecah operasionalnya menjadi lima “creative houses” alias rumah imajinatif nan berfaedah sebagai unit upaya independen. Strategi ini diharapkan dapat memberikan elastisitas lebih bagi tim developer dalam mengelola proyek mereka.
Salah satu unit nan menjadi sorotan adalah Vantage Studios. Studio nan didukung oleh Tencent ini sebelumnya telah diumumkan dan bakal bertanggung jawab mengawasi sejumlah waralaba jagoan perusahaan. Beberapa nama besar nan bakal berada di bawah pengawasan mereka antara lain adalah Rainbow Six, Assassin’s Creed, dan Far Cry. Perubahan struktur ini diharapkan dapat menyegarkan kembali lini produksi game Ubisoft nan belakangan terasa stagnan, meskipun tantangan besar menanti di depan mata layaknya ketidakpastian event game besar dunia.
Penutupan Studio dan Isu PHK
Dampak dari restrukturisasi ini tidak hanya berakhir pada agenda rilis game, tetapi juga merambah ke aspek operasional studio fisik. Dalam briefing hari Rabu tersebut, Ubisoft mengonfirmasi laporan mengenai penutupan studio mereka di Stockholm dan Halifax (yang baru saja membentuk serikat pekerja). Keputusan ini tentu menjadi sinyal bahwa efisiensi menjadi prioritas utama dalam model upaya baru mereka.
Studio lain juga tidak luput dari akibat perubahan ini. Massive Entertainment, developer di kembali Star Wars Outlaws, dijadwalkan bakal mengalami restrukturisasi sebagai akibat dari penerapan model baru tersebut. Ketika ditanya mengenai potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) nan mungkin terjadi akibat reorganisasi skala besar ini, Ubisoft menolak untuk memberikan nomor pasti kepada VGC. Situasi ini tentu menciptakan ketidakpastian bagi para pekerja imajinatif di dalamnya, sembari para gamer menunggu kepastian jadwal rilis game favorit mereka.
Langkah Ubisoft kali ini memang terbilang berani sekaligus berisiko. Dengan membatalkan proyek nan dianggap tidak menjanjikan dan merombak struktur internal, mereka tampaknya mau “bersih-bersih” demi masa depan nan lebih stabil. Namun, bagi Anda para penggemar, ini berfaedah kudu mempunyai stok kesabaran ekstra. Apakah strategi “creative houses” ini bakal sukses mengembalikan kejayaan Ubisoft, alias justru menambah daftar panjang janji manis nan tak terpenuhi? Hanya waktu nan bisa menjawabnya.