Telset.id – Meta mengonfirmasi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.500 tenaga kerja di bagian Reality Labs, unit nan menangani produk realitas virtual (VR) dan metaverse. Langkah drastis ini, nan memangkas nyaris 10% staf bagian tersebut, menandai pergeseran strategis perusahaan dari visi metaverse nan ambisius ke arah pengembangan perangkat wearable berbasis kepintaran buatan (AI).
PHK ini dilaporkan pertama kali oleh Wall Street Journal dan berakibat pada penutupan tiga studio developer game VR. Meski platform game VR Meta, Horizon Worlds, tetap beroperasi, kapasitasnya dilaporkan menurun. Seorang ahli bicara Meta menyatakan langkah ini konsisten dengan pengumuman perusahaan bulan lampau tentang pengalihan investasi. “Kami mengatakan bulan lampau bahwa kami mengalihkan sebagian investasi kami dari Metaverse ke perangkat wearable,” ujar ahli bicara tersebut kepada WSJ. “Ini adalah bagian dari upaya itu.”
Keputusan ini seolah menjadi paku terakhir bagi peti meninggal upaya Meta menciptakan platform augmented reality (AR) nan menguntungkan. Sejak diluncurkan pada 2020, bagian Reality Labs telah mencatatkan kerugian kumulatif lebih dari US$77 miliar bagi perusahaan. Pergeseran ini terjadi hanya tiga tahun setelah Mark Zuckerberg dengan gegap gempita mengubah nama perusahaan dari FB menjadi Meta, menempatkan metaverse sebagai jantung visi masa depannya.
Analis industri menyebut keputusan Meta untuk akhirnya menarik diri dari metaverse nan bermasalah sebagai “langkah cerdas, hanya saja terlambat.” Bahkan Zuckerberg sendiri mulai menjauh dari narasi metaverse dalam panggilan pendapatan perusahaan sejak awal 2023, seiring dengan kegagalan proyek besar tersebut. PHK besar-besaran ini bukan nan pertama bagi Meta, nan sebelumnya telah melakukan beberapa gelombang PHK karyawan dalam upaya restrukturisasi.
Fokus baru Meta sekarang tertuju pada perangkat wearable nan didukung AI, seperti kacamata pandai AI-nya. Namun, transisi ini tidak melangkah mulus. Baru pekan lalu, Meta kudu menghentikan sementara pengiriman kacamata AI-nya ke pasar internasional lantaran masalah persediaan. Analis juga memperingatkan bahwa izin privasi internasional nan ketat dan pasar nan sudah jenuh dapat membatasi penjualan perangkat tersebut.
Meski tantangan ada di depan mata, optimisme internal tampaknya tetap tinggi. Bloomberg mengungkapkan bahwa pelaksana Meta sempat mendiskusikan kemungkinan menggandakan total produksi kacamata AI, dari 10 juta unit menjadi 20 juta unit. Seorang sumber nan familiar dengan masalah tersebut mengatakan kepada publikasi bahwa produksi bisa mencapai 30 juta unit pada akhir 2026, asalkan permintaan pasar mendukung peningkatan pasokan tersebut.
Langkah Meta ini mencerminkan tren lebih luas di industri teknologi, di mana banyak perusahaan sekarang mengalihkan sumber daya secara masif ke pengembangan AI. Baru-baru ini, perusahaan lain seperti xAI juga melakukan PHK untuk memfokuskan diri pada pengembangan model AI spesialis. Restrukturisasi di tubuh Meta sendiri telah berjalan dalam beberapa fase, termasuk spekulasi mengenai gelombang PHK tambahan sebelum pengumuman resmi ini.
Masa Depan nan Tidak Pasti dan Implikasi Pasar
Meski era metaverse jenis Meta tampaknya bakal segera berhujung dengan segala kejanggalannya, masa depan perangkat wearable AI-nya tetap penuh ketidakpastian. PHK massal di bagian Reality Labs menyisakan pertanyaan besar tentang komitmen jangka panjang perusahaan terhadap ekosistem VR nan telah dibangunnya, termasuk bagi developer dan pengguna setia.
Perubahan hadapan strategis ini juga menyoroti volatilitas dalam industri teknologi nan bergerak cepat, di mana perusahaan-perusahaan raksasa dapat dengan sigap meninggalkan investasi miliaran dolar untuk mengejar tren berikutnya. Sementara tenaga kerja nan di-PHK kudu menghadapi salah satu pasar tenaga kerja terberat sejak 2003, Meta berambisi taruhannya pada AI bakal membuahkan hasil nan lebih baik daripada petualangan virtual reality-nya nan terkenal mahal.
Dengan konsentrasi baru pada AI, Meta sekarang membagi sumber dayanya untuk bersaing di lanskap nan sama padatnya. Keberhasilan alias kegagalan kacamata AI dan perangkat wearable lainnya bakal menentukan apakah keputusan strategis kali ini lebih tepat dibandingkan visi metaverse sebelumnya. Untuk saat ini, satu perihal nan pasti: babak utama penelitian metaverse Meta, dengan segala kemegahan dan kompleksitasnya, sedang menuju akhir.