Pentagon Resmi Integrasikan Grok Ai Ke Sistem Militer Rahasia

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Telset.id – Pentagon mengambil langkah berani dan kontroversial dengan mengumumkan rencana integrasi chatbot Grok buatan Elon Musk ke dalam sistem rahasia Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengonfirmasi bahwa langkah ini bakal dieksekusi akhir bulan ini sebagai bagian dari inisiatif departemen secara luas untuk “mempersenjatai AI” dalam operasi militer.

Dalam pidatonya di akomodasi SpaceX di Brownsville, Texas, Hegseth memaparkan visi masa depan militer AS nan didukung oleh kepintaran buatan nan beraksi tanpa halangan ideologis. Ia menekankan bahwa AI nan digunakan Pentagon “tidak bakal woke” alias terikat pada batas moral nan dianggap menghalang aplikasi militer nan sah secara hukum.

Integrasi ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi pertahanan AS. Hegseth menegaskan bahwa kemenangan di masa depan tidak bakal diraih sekadar dengan menaburkan teknologi AI ke dalam strategi lama layaknya “debu peri digital”. Sebaliknya, Pentagon berencana menemukan langkah bertempur nan betul-betul baru, termasuk kampanye eksperimentasi berkepanjangan dan laboratorium tempur kuartalan nan melibatkan kawanan (swarms) nan dikoordinasikan AI.

Visi Perang Tanpa Batasan Ideologi

Pilihan Hegseth jatuh pada Grok bukan tanpa alasan. Model AI ini, nan direkayasa oleh Elon Musk sebagai pengganti “bebas kekangan” dari chatbot lain seperti ChatGPT milik OpenAI, dinilai sebagai pasangan ideologis nan sempurna untuk visi baru Pentagon. Grok sebelumnya sempat menjadi sorotan lantaran kemampuannya mendistribusikan info pribadi dan memberikan petunjuk untuk aktivitas nan meragukan secara etika.

Hegseth menjelaskan bahwa strategi baru ini bakal mencakup pertahanan siber berbasis pemasok serta komando dan kontrol nan terdistribusi. Untuk memuluskan transisi teknologi ini, Hegseth juga mengumumkan pembentukan peran baru di Departemen Pertahanan, ialah “Chief Digital and Artificial Intelligence Officer”. Posisi strategis ini bakal diisi oleh Cameron Stanley, mantan pemimpin transformasi keamanan nasional di Amazon Web Services nan juga mempunyai rekam jejak panjang sebagai penasihat sains dan teknologi di Pentagon.

Pendekatan garang ini sejalan dengan serangkaian kampanye militer nan telah dilancarkan di bawah kepemimpinan Hegseth. Laporan menyebut bahwa Departemen Pertahanan telah mengorkestrasi serangan sadis terhadap negara-negara berdaulat, termasuk kampanye di Venezuela, serangan di desa-desa Nigeria dengan dalih kontra-terorisme, serta peluncuran setidaknya 134 serangan udara di Somalia nan menewaskan banyak penduduk sipil dan militan.

Kontroversi Etika dan Isu Orang Dalam

Dalam konteks peperangan nan agresif, perangkat seperti Grok dianggap sangat berfaedah lantaran kurangnya filter etika nan ketat. Sebuah survei nan dilakukan oleh Futurism terhadap beragam chatbot—termasuk ChatGPT dan Microsoft Copilot—menemukan bahwa hanya Grok nan bersedia memberikan saran operasional untuk skenario asumsi “invasi ke Greenland”. Model AI lainnya menolak permintaan tersebut dengan argumen norma internasional dan masalah etika.

Namun, integrasi ini tidak lepas dari sorotan tajam mengenai masalah privasi dan potensi bentrok kepentingan. Hegseth dituduh memilih perangkat perang nan mencerminkan impuls tergelapnya sendiri; sebuah sistem nan bakal memproses info serangan udara tanpa sedikitpun rasa penyesalan.

Selain masalah moralitas dalam penggunaan AI untuk perang, muncul pula skandal finansial nan membayangi inisiatif ini. Hanya beberapa minggu sebelum pengumuman integrasi Grok, suami dari personil parlemen Partai Republik, Lisa McClain, dilaporkan membeli saham xAI (perusahaan di kembali Grok) dengan nilai antara USD 100.001 hingga USD 250.000.

Pembelian saham tersebut dilaporkan terjadi hanya beberapa hari setelah McClain berjumpa dengan Trump dalam sebuah aktivitas di Gedung Putih pada 3 Desember lalu. Transaksi ini menambah daftar panjang dugaan penggunaan info orang dalam (insider trading) nan mencoreng rekam jejak manajemen saat ini. Langkah Pentagon merangkul teknologi xAI sekarang berada di bawah mikroskop, baik dari sisi etika militer maupun integritas pemerintahan.

Keputusan untuk membawa teknologi xAI ke dalam prasarana militer paling sensitif di bumi ini dipastikan bakal memicu debat panjang mengenai batas-batas penggunaan kepintaran buatan dalam bentrok bersenjata dan perlunya izin nan lebih ketat.

Selengkapnya