Soilpin, Alat Pantau Tanah Berbasis Ai Karya Pelajar Ri Sabet Emas Di Ipitex 2026

Sedang Trending 21 jam yang lalu

Telset.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh talenta muda Indonesia di kancah internasional. Sebanyak tujuh pelajar berumur 15 tahun asal Tanah Air sukses mengembangkan penemuan berjulukan SoilPIN, sebuah perangkat pemantau kesehatan tanah portabel berbasis kepintaran buatan (AI). Inovasi ini sukses menyabet Medali Emas dalam arena bergengsi IPITEx 2026 nan diselenggarakan di Bangkok, Thailand.

Kemenangan di arena Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) ini bukan sekadar pamer trofi. Pencapaian tersebut menjadi bukti sahih bahwa anak-anak muda Indonesia mempunyai kapabilitas mumpuni dalam melahirkan solusi digital nan relevan. Mereka tidak hanya berkutat pada teori, namun bisa menjawab kebutuhan krusial di sektor pertanian melalui pendekatan teknologi nan aplikatif.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Edwin Hidayat Abdullah, memberikan apresiasi tinggi terhadap capaian ini. Menurutnya, SoilPIN adalah representasi nyata gimana digitalisasi dapat menyentuh akar rumput, memberikan akibat langsung bagi petani dan keberlangsungan lingkungan.

“Inovasi ini menunjukkan bahwa anak muda Indonesia bisa membaca persoalan nyata dan menjawabnya dengan teknologi. SoilPIN adalah contoh gimana digitalisasi bisa memberi faedah langsung bagi petani dan lingkungan,” ujar Edwin dalam keterangan resminya di Jakarta.

Solusi Cerdas untuk Pertanian Presisi

Sektor pertanian seringkali dihadapkan pada tantangan efisiensi dan kecermatan data. Di sinilah SoilPIN datang sebagai game changer. Alat ini dirancang untuk membantu petani mengetahui kondisi tanah secara sigap dan real-time langsung di lahan. Dengan corak pin portabel nan ringkas, perangkat ini menawarkan kepraktisan nan jarang ditemui pada perangkat ukur laboratorium konvensional.

Secara teknis, SoilPIN bisa mengukur delapan parameter vital tanah sekaligus. Parameter tersebut meliputi tingkat keasaman (pH), kelembaban, suhu, salinitas, serta kandungan unsur hara makro nan sangat dibutuhkan tanaman, ialah Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Kemampuan ini mengingatkan kita pada upaya Produktivitas Kopi di Malang nan juga memanfaatkan teknologi IoT untuk hasil panen nan lebih baik.

Data nan ditangkap oleh sensor SoilPIN tidak hanya berakhir sebagai angka. Informasi tersebut dikirimkan ke aplikasi ponsel pandai dan dianalisis menggunakan teknologi AI. Hasil akhirnya bukan sekadar info mentah, melainkan rekomendasi tindakan perbaikan lahan nan bisa langsung dieksekusi oleh petani.

Perwakilan tim developer SoilPIN, Armand Muhammad Abdullah, menjelaskan bahwa urgensi perangkat ini berangkat dari kebiasaan petani nan kerap bekerja tanpa pedoman info akurat. “Petani sering mengambil keputusan tanpa info tanah nan akurat. SoilPIN memberi jawaban sigap di lapangan. Itu nan kami kejar,” tegas Armand.

Dukungan Ekosistem dan Hilirisasi Inovasi

Sebelum melenggang ke Bangkok dan meraih emas, SoilPIN telah melalui serangkaian uji coba lapangan di Bandung dan Jakarta. Hal ini dilakukan untuk memastikan validitas info dan ketahanan perangkat di beragam kondisi tanah. Lebih jauh lagi, aspek legalitas penemuan ini juga telah diamankan melalui perlindungan kewenangan cipta dari Kementerian Hukum RI.

Keberhasilan SoilPIN dinilai Dirjen Edwin sebagai jawaban atas kebutuhan nyata sektor agraris. Teknologi nan sederhana namun powerful ini membuka akses info tanah bagi petani kecil, khususnya di wilayah nan mempunyai jasa agronomi terbatas. Hal ini sejalan dengan tren dunia di mana Efisiensi Industri menjadi kunci keberlanjutan ekonomi.

Namun, tantangan terbesar bagi inovator muda seringkali adalah “lembah kematian” pasca kompetisi—di mana penemuan berakhir hanya sebagai purwarupa. Menyadari perihal ini, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Ditjen Ekosistem Digital Kementerian Komdigi, Sonny Sudaryana, menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam.

Sonny mengungkapkan bahwa buahpikiran SoilPIN sekarang tengah dihubungkan dengan kebutuhan publik nan lebih luas melalui Garuda Spark Innovation Hub. Tujuannya jelas: agar penemuan ini tidak mandek di lemari piala.

“Garuda Spark kami rancang agar penemuan tidak berakhir di lomba. Kami bantu agar solusi seperti SoilPIN bisa dipakai petani, diuji di lapangan, dan berkembang menjadi produk nan berfaedah luas,” ujar Sonny. Ini adalah langkah strategis untuk memastikan teknologi mempunyai Masa Depan nan berkepanjangan dan berakibat ekonomi.

Pengembangan ekosistem menjadi kunci vital. Sonny menambahkan bahwa teknologi baru bisa dikatakan sukses ketika betul-betul bekerja untuk publik. “Kami mau penemuan dipakai masyarakat. Ketika petani bisa menghemat biaya, meningkatkan hasil, dan menjaga tanahnya, di situlah teknologi bekerja untuk publik,” pungkasnya.

Selengkapnya