Studi Baru: Ledakkan Nuklir Efektif Belokkan Asteroid Tanpa Hancurkan Bumi

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Telset.id – Sebuah kerjasama penelitian internasional nan melibatkan intelektual dari CERN dan Universitas Oxford mengungkap kebenaran mengejutkan mengenai pertahanan planet. Studi terbaru ini menunjukkan bahwa penggunaan hulu ledak nuklir untuk membelokkan asteroid nan menakut-nakuti Bumi mungkin jauh lebih efektif dan kondusif daripada nan diperkirakan sebelumnya, menepis kekhawatiran bahwa metode ini hanya bakal menciptakan hujan puing radioaktif.

Isu pertahanan planet kembali menjadi sorotan sains. Kita tahu bahwa asteroid berukuran besar mempunyai potensi destruktif nan nyata. Sebagai gambaran, meteor Chelyabinsk berukuran 60 kaki nan meledak di atas wilayah Ural selatan, Rusia, pada tahun 2013 melepaskan ledakan setara dengan 30 kali daya peledak atom Hiroshima. Jika objek nan lebih besar mengancam, manusia memerlukan solusi nan lebih radikal.

Hingga saat ini, metode nan paling terkenal dan telah diuji adalah akibat kinetik, seperti Misi DART milik NASA pada tahun 2022. Misi ini sukses menabrakkan pesawat ruang angkasa ke asteroid untuk mengubah jalurnya. Namun, metode “biliar kosmik” ini mungkin tidak selalu bisa diandalkan, terutama jika waktu peringatan sangat singkat alias objeknya terlalu besar.

Dalam makalah baru nan diterbitkan di jurnal Nature Communications, para peneliti meninjau kembali opsi “nuklir”. Selama ini, terdapat kekhawatiran intuitif bahwa meledakkan asteroid dengan nuklir justru bakal memecahnya menjadi ribuan kepingan mini nan tetap menghujani Bumi—mengubah “tembakan sniper” menjadi “tembakan shotgun” nan tak kalah mematikan.

Namun, tim peneliti nan berkolaborasi dengan startup defleksi nuklir, Outer Solar System Company (OuSoCo), menemukan hasil nan berbeda. Menggunakan akomodasi Super Proton Synchrotron (SPS) milik CERN, mereka melakukan simulasi bentuk skala besar untuk memandang gimana material asteroid bereaksi terhadap tekanan ekstrem.

Dalam eksperimennya, tim memaparkan sampel meteorit kaya logam pada 27 degub sinar proton nan pendek namun intens di akomodasi HiRadMat CERN. Selanjutnya, sampel tersebut dipindahkan ke ISIS Neutron and Muon Source di Rutherford Appleton Laboratory, Inggris, untuk kajian struktur internal mikroskopis.

Hasilnya mengejutkan para ilmuwan. Alih-alih hancur berkeping-keping, material tersebut justru menjadi lebih kuat. Melanie Bochmann, salah satu pendiri OuSoCo, menjelaskan bahwa material tersebut menunjukkan peningkatan kekuatan luluh (yield strength) dan perilaku peredaman nan menstabilkan diri.

“Eksperimen kami menunjukkan bahwa—setidaknya untuk material asteroid nan kaya logam—perangkat nan lebih besar dari nan diperkirakan sebelumnya dapat digunakan tanpa memecahkan asteroid secara katastrofik,” ujar Bochmann.

Temuan ini membuka kembali opsi darurat untuk situasi nan melibatkan objek sangat besar alias waktu peringatan nan sangat singkat, di mana metode non-nuklir dianggap tidak memadai. Model komputasi saat ini sering kali berasumsi bahwa fragmentasi bakal membatasi ukuran perangkat nuklir nan bisa digunakan, namun info bentuk terbaru ini membantah dugaan tersebut.

Karl-Georg Schlesinger, rekan pendiri OuSoCo, menegaskan bahwa pertahanan planet adalah tantangan ilmiah nan unik lantaran kita tidak bisa melakukan uji coba bumi nyata sebelum ancaman sebenarnya datang. Oleh lantaran itu, simulasi laboratorium seperti ini sangat krusial untuk menghindari akibat hujan meteor buatan akibat kegagalan misi defleksi.

Para peneliti berencana untuk segera mendapatkan lebih banyak data. NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA) sedang bersiap untuk mempelajari Apophis, sebuah asteroid raksasa dengan lebar antara 1.000 hingga 1.500 kaki. Asteroid ini diperkirakan bakal melintas sangat dekat dengan Bumi—lebih dekat daripada satelit geosinkron—pada April 2029.

Langkah selanjutnya bagi tim peneliti adalah mempelajari material asteroid nan lebih kompleks. Mereka menargetkan pallasit, kelas meteorit nan terdiri dari matriks logam dengan kristal kaya magnesium nan tertanam di dalamnya. Eksperimen lanjutan ini tidak hanya berfaedah untuk strategi pembelokan asteroid, tetapi juga dapat memberikan wawasan berbobot tentang proses pembentukan planet di masa awal tata surya.

Selengkapnya