Telset.id – Di tengah gelombang antusiasme dunia terhadap kepintaran buatan, sebuah kebenaran menarik muncul dari negara tetangga. Mayoritas pengguna di Singapura rupanya memandang teknologi ini dengan kacamata nan sangat pragmatis. Sebuah survei terbaru mengungkap bahwa penggunaan chatbot AI di sana didominasi untuk tujuan praktis dan informatif, alih-alih untuk kebutuhan sosial alias emosional.
Data ini seolah menjadi antitesis dari narasi fiksi ilmiah nan sering menggambarkan manusia masa depan bakal “jatuh cinta” alias berjuntai secara emosional pada mesin. Realitasnya, setidaknya di Singapura, hubungan pertemanan antarmanusia secara tatap muka tetap memegang takhta tertinggi di era digital ini.
Temuan ini dirilis pada Selasa (20/1) oleh Institut Studi Kebijakan di Universitas Nasional Singapura (NUS). Studi nan melibatkan 3.713 responden berumur 21 tahun ke atas ini dilakukan pada periode Oktober hingga November 2025, memberikan gambaran komprehensif mengenai gimana masyarakat urban mengangkat teknologi baru.
Dominasi Fungsi Utilitarian
Berdasarkan hasil survei tersebut, lebih dari 60 persen responden menyatakan bahwa mereka telah menggunakan chatbot AI. Namun, pola penggunaannya sangat spesifik. Sebanyak 81,2 persen responden memanfaatkan teknologi ini murni untuk mencari informasi, membaca ulasan, alias meminta rekomendasi produk dan layanan.
Angka nan tak kalah signifikan terlihat pada sektor produktivitas. Sekitar 61 persen responden mengaku menggunakan AI sebagai perangkat bantu untuk menyelesaikan tugas sekolah alias pekerjaan kantor. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi kepintaran buatan, seperti fitur canggih pada Galaxy AI, semakin diterima sebagai penunjang efisiensi kerja sehari-hari.
Sebaliknya, kegunaan sosial dari teknologi ini tampaknya belum terlalu diminati. Hanya segelintir pengguna, tepatnya 11,8 persen, nan mengatakan bahwa mereka melakukan percakapan santuy dengan bot. Angka nan lebih mini lagi, sekitar 10 persen, melaporkan mencari support emosional alias support kesehatan mental dari mesin pandai tersebut.
Skeptisisme dan Kewaspadaan Tinggi
Meskipun tingkat mengambil cukup tinggi, survei NUS juga menyoroti sikap kritis masyarakat Singapura. Mereka tidak menelan mentah-mentah kecanggihan nan ditawarkan. Mayoritas responden menunjukkan sikap waspada nan cukup berdasar terhadap teknologi tersebut.
Tercatat lebih dari 92 persen responden menekankan bahwa masyarakat perlu lebih berhati-hati saat menggunakan chatbot AI. Kekhawatiran utama terletak pada validitas data, di mana 87,3 persen setuju bahwa chatbot berpotensi menyebarkan info nan menyesatkan alias fatamorgana AI. Ini menjadi catatan penting, mengingat Chatbot AI sekarang semakin banyak diimplementasikan di beragam platform e-commerce dan jasa pelanggan.
Selain masalah akurasi, akibat psikologis juga menjadi sorotan. Lebih dari tujuh dari 10 responden merasa bahwa hubungan dengan AI dapat menciptakan ekspektasi nan tidak realistis tentang sebuah hubungan. Hal ini dikhawatirkan dapat mempersulit perseorangan untuk membangun hubungan nyata dan mengurangi kecenderungan mereka untuk mencari support dari orang lain di bumi nyata saat menghadapi masalah.
Kekhawatiran ini sejalan dengan tren dunia di mana pengenalan Teknologi AI sejak awal mulai diterapkan di sekolah-sekolah, namun tetap memerlukan pengawasan ketat agar tidak menggerus keahlian sosial siswa.
Pada akhirnya, studi ini menegaskan bahwa fondasi sosial manusia belum tergoyahkan oleh algoritma. Hubungan pertemanan secara langsung tetap kuat, dengan banyak responden menyatakan bahwa mereka pertama kali berjumpa dengan semua kawan dekat mereka secara tatap muka, bukan melalui perantara digital maupun mesin.